kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Indeks obligasi Indonesia (ICBI) volatil, pasar obligasi tetap memikat


Kamis, 06 Februari 2020 / 08:15 WIB
Indeks obligasi Indonesia (ICBI) volatil, pasar obligasi tetap memikat

Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Volatilitas yang terjadi pada pergerakan indeks obligasi atau Indonesia Composite Bond Index (ICBI) dalam sepekan terakhir, rupanya tidak menyurutkan daya tarik pasar obligasi Tanah Air. Meskipun volatilitas diprediksi masih akan berlanjut, namun prospek obligasi masih positif ke depan.

Mengutip laman PT Penilai Harga Efek Indonesia (IBPA), diketahui ICBI pada perdagangan Rabu (5/2) ditutup turun 0,04% di level 281,69. Angka tersebut sedikit menanjak setelah sempat menyentuh level 280,68 pada Senin (3/2).

Baca Juga: Penyebab Indonesia Composite Bond Index (ICBI) cukup volatile sepekan terakhir

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto menjelaskan, volatilitas yang terjadi pada ICBI sepekan terakhir sejalan dengan kondisi market yang juga tertekan. Ini tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot ke bawah level psikologis 6.000.

Selain itu, kondisi pasar yang rally cukup kuat di awal tahun membuat pasar cenderung melakukan profit taking akhir-akhir ini, diikuti arus keluar dari investor asing. Ditambah lagi, sentimen eksternal seperti penyebaran virus corona yang terus melebar, turut menekan sentmen di pasar.

"Meskipun begitu, hasil lelang SUN di Selasa (4/2) yang menyentuh level rekor, sukses membawa ICBI kembali bergerak stabil," ujar Ramdhan kepada Kontan.co.id, Rabu (5/2).

Ke depannya, Ramdhan menilai, pergerakan ICBI masih akan volatile seiring banyaknya tekanan market dari eksternal. Sedangkan dari domestik, dia mengaku, kondisi pasar reksadana terkait kasus Jiwasraya dan Asabri turut menyurutkan minat investor untuk berinvestasi, disertai level credit default swap (CDS) 5 tahun yang kembali meningkat.

"Volatile kelihatannya masih akan berlangsung lama, karena belum terlihat penangan corona akan seperti apa. Selain itu, pasar saham di pasar global masih tertahan dan cenderung minus," tambahnya.

Berkaca dari kondisi tersebut, Ramdhan masih optimistis terhadap prospek pasar obligasi Tanah Air ke depan. Apalagi, Indonesia termasuk negara yang menawarkan imbal hasil tinggi.

Prediksi dia, yield untuk SUN tenor 10 tahun akan berada di rentang 6,5%-6,6%. Di mana, risiko pasar sebagian besar datang dari sentimen eksternal khususnya terkait corona, sedangkan sentimen perang dagang cenderung sudah mereda.

Baca Juga: Ini faktor yang membuat asing masih melirik obligasi pemerintah




TERBARU

Close [X]
×