kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Indeks IDMA kembali bergerak mendekati level harga tertingginya


Selasa, 11 Oktober 2011 / 10:07 WIB
ILUSTRASI. Kilang minyak. REUTERS/Essam Al-Sudani/File Photo


Reporter: Dyah Ayu Kusumaningtyas | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Awal pekan ini, sentimen pemangkasan rating Italia dan Spanyol tidak serta merta menggoyahkan stabilitas pasar obligasi domestik. Kemarin (10/10), Indeks Inter Dealer Market Association (IDMA), acuan harga obligasi pemerintah, naik ke posisi 106,03. Angka tersebut kian mendekati level tertingginya pada 9 September lalu di 107,36.

Selain itu, seiring dengan kenaikan harga obligasi pemerintah, tingkat yield pun turut menurun. Menurut rilis data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), yield obligasi pemerintah bertenor sepuluh tahun turun 4,80 basis poin (bps) atau surut 0,69% ke level 6,7%. Sebagai perbandingan, pada akhir pekan lalu, yield yang sama masih berada di kisaran 6,92%.

Adapun yield Seri FR0032 bertenor 7 tahun (tenor menengah) di periode yang sama juga turun jadi 6,41% dari 6,48% di pekan lalu dan seri FR0023 bertenor 1 tahun, yieldnya surut menjadi 5,63% dari sebelumnya sebesar 5,85%.

Tumpal Sihombing, Corporate Secretary IBPA bilang menambahkan, tren pergerakan pasar obligasi juga dicerahkan oleh data Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan sejumlah sentimen positif setelah beberapa indikator perekonomian menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recovery).

"Indeks ISM Manufacture naik menjadi 51,6 dibandingkan Agustus lalu yang berada di level 50,6. Hasil ini lebih tinggi dari prediksi ekonom yang memperkirakan indikator tersebut hanya ada di kisaran 45 hingga 52," urai Tumpal.

Disamping itu juga, ISM non manufacturing index naik ke level 53 atau lebih tinggi daripada prediksi Bloomberg sebesar 52,8.

Sedangkan dari domestik, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus menstabilkan pergerakan harga di pasar obligasi. Antara lain dengan pembelian Surat berharga Negara (SBN) oleh BI secara bilateral ataupun pemerintah yang mengadakan lelang dan buy back Surat Utang Negara (SUN)

Sebagai catatan, dari data terakhir Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Negara (DJPU) per 5 Oktober, memerlihatkan kepemilikan BI terhadap SBN terus naik menjadi Rp22,22 triliun atau bertambah 30,47% dari akhir bulan September yang sebesar Rp 17,03 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×