CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

IHSG berpotensi melemah di awal pekan


Minggu, 15 Desember 2019 / 20:44 WIB
IHSG berpotensi melemah di awal pekan
ILUSTRASI. Karyawan berdiri di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (13/12/2019).

Reporter: Kenia Intan | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Senin (15/12) diproyeksikan melemah. Pada penutupan Jumat (13/12), IHSG menguat 57,92 poin atau 0,94% ke level 6.197,32. Dalam sepekan terakhir, IHSG menguat 0,17%.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memprediksi, IHSG pekan ketiga Desember berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 6.139 sampai 6.095 dan resistance di level 6.210 sampai 6.250.

"Hasil akhir kesepakatan fase satu kami pikir tidak akan mampu menaikkan pasar secara signifikan," ungkap Hans Kwee riset, Minggu (15/12).

Baca Juga: IHSG masih mungkin terkoreksi hingga akhir tahun

Sebab, hasil yang terjadi adalah penundaan pengenaan tarif, pemotongan tarif impor dari China senilai US$ 120 miliar dipangkas kembali menjadi 7,5% dari sebelumnya 15%. Amerika Serikat (AS) masih akan mempertahankan tarif impor 25% untuk barang-barang senilai US$ 250 miliar. Padahal, China menghendaki adanya penghapusan tarif.

Sementara itu, China dikabarkan telah setuju untuk meningkatkan pembelian produk pertanian AS senilai US$ 40 miliar, di bawah target yang  sebesar US$ 50 miliar.

Hans melihat perundingan tidak optimal karena AS lebih fokus pada penyelesaian kesepakatan perdagangan dengan Meksiko dan Kanada. Akan tetapi, kesepakatan fase satu menekan kekhawatiran pasar menjelang 15 Desember 2019 yang ditetapkan sebagai tenggat waktu kenaikan tarif.

Baca Juga: Banyak saham baru mentok Rp 50 gara-gara otoritas kejar setoran

Masih dari AS, pasar pekan ini akan terus memantau peluang pemakzulan Presiden AS Donald Trump. DPR AS telah mengumumkan dakwaan pemakzulan formal terhadap Presiden ke-45 AS. Presiden Trump dituduh mengkhianati negara dengan menyalahgunakan kekuasaan dalam upaya menekan Ukraina untuk menyelidiki saingan politik dan kemudian menghalangi penyelidikan Kongres atas skandal tersebut.

Sementara katalis positif datang dari pasar Eropa, muncul harapan untuk penyelesaian Brexit setelah Perdana Menteri Boris Johnson menang pemilu di Inggris. Kemenangan ini diharapkan mengakhiri ketidakpastian rencana Inggris keluar dari Uni Eropa yang telah terjadi dalam 3,5 tahun terakhir.


Tag


TERBARU

Close [X]
×