Reporter: Rashif Usman | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melorot 214,85 poin atau 3,31% ke 6.270,59 di akhir perdagangan Februari, Jumat (28/2). Dalam sepekan terakhir, IHSG melemah 7,83%.
VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan pelemahan IHSG didorong aksi jual asing yang mencapai Rp 10,2 triliun di seluruh perdagangan.
Saham perbankan paling banyak dilepas asing dalam sepekan, seperti: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 2,1 triliun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp1,8 triliun dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp1,1 triliun.
Audi menyampaikan pelemahan IHSG dalam sepekan disebabkan oleh beberapa sentimen. Pertama, tekanan jual asing yang masih deras, khususnya paska diturunkan rating MSCI Indonesia menjadi underweight dan bobotnya.
Baca Juga: Ikut Memerah, Cek Harga Saham BBRI, PGEO, dan ARTO saat IHSG Anjlok pada Jumat (28/2)
Kedua, ketidakpastian ekonomi global. Hal ini seiring dengan kebijakan tarif Trump yang masih memberikan sentimen negatif dan potensi terdorongnya inflasi kembali
"Ketiga, kinerja emiten yang cenderung melambat," kata Audi kepada Kontan
Keempat, depresiasi nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tercatat per Jumat (28/2) nilai rupiah menyentuh level Rp 16.570 dan menggambarkan ketidakstabilian dalam negeri.
Sementara itu, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan ada beberapa faktor memengaruhi pergerakan IHSG dalam sepekan belakangan.
Pertama, masih besarnya aliran dana keluar dari IHSG, di mana hingga Jumat (28/2) tercatat outflow mencapai Rp 8,01 triliun.
Baca Juga: Rupiah Jeblok ke Level Terburuk Sejak 1998, IHSG Tembus ke 6.270 di Akhir Pekan Ini
Kedua, tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih berlanjut. Ketiga, meningkatnya kekhawatiran investor terkait kebijakan tarif impor AS terhadap Kanada, Meksiko, dan China.
"Keempat, penurunan peringkat MSCI Indonesia serta sikap investor yang cenderung wait and see menjelang peluncuran Danantara," jelas Herditya kepada Kontan, Jumat (28/2).
Kelima, rilis kinerja BBRI di Januari 2025 yang cenderung melemah.
Untuk Senin (3/3), Herditya memproyeksikan IHSG masih rawan terkoreksi terbatas dengan support di 6.269 dan resistance 6.399.
"Kami perkirakan, IHSG masih akan dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang diperkirakan masih tertekan dan outflow dari emiten big caps khususnya perbankan," tandas Herditya.
Selanjutnya: Hasil Sidang Isbat, Puasa Ramadhan Mulai Besok, 1 Maret 2025
Menarik Dibaca: IDEC 2025 Dorong Inovasi di Industri Kesehatan Gigi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News