kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45812,30   5,40   0.67%
  • EMAS1.056.000 0,19%
  • RD.SAHAM 0.38%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Hingga Mei 2020, bauran energi untuk produksi listrik masih dikuasai batubara


Minggu, 02 Agustus 2020 / 19:48 WIB
Hingga Mei 2020, bauran energi untuk produksi listrik masih dikuasai batubara
ILUSTRASI. Hingga Mei 2020, bauran batubara masih menguasai 63,92% dari pemakaian energi primer untuk memproduksi listrik.

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Batubara masih mendominasi porsi bauran energi pada pembangkitan tenaga listrik nasional. Hingga Mei 2020, bauran batubara masih menguasai 63,92% dari pemakaian energi primer untuk memproduksi listrik.

Disusul dengan bauran gas sebanyak 18,08%, Energi Baru Terbarukan (EBT) 14,95% dan energi berbasis Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 3,05%. Persentase tersebut merupakan realisasi pemakaian energi primer dari total produksi listrik dalam Gigatwatt per hour (Gwh) pembangkit listrik di wilayah pengusahaan PT PLN (Persero).

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengamini, hingga saat ini kelistrikan di Indonesia memang masih belum bisa keluar dari ketergantungan pada energi batubara. "Hingga Mei 2020, bagaimana listrik kita dihasilkan, batubara masih mendominasi pembangkit kita," kata Rida dalam konferensi pers virtual yang digelar Kamis (30/7).

Baca Juga: Covid-19 berlanjut hingga akhir tahun, konsumsi listrik 2020 ditaksir turun 6,25%

Namun Rida menekankan bahwa pemerintah terus mendorong ke arah energi yang berkelanjutan. Selain pengembangan listrik berbasis EBT dan pemakaian teknologi yang lebih ramah lingkungan pada PLTU Batubara, penggunaan BBM pada pembangkitan pun terus ditekan. Antara lain melalui program gasifikasi pembangkit BBM yang tengah dijalankan pemerintah bersama PLN dan holding migas BUMN, PT Pertamina (Persero).

Dari sisi bauran EBT, Rida menjelaskan bahwa energi air (hydro)dan panas bumi masih mendominasi sumber setrum energi bersih. Dari 14,95% porsi EBT dalam produksi listrik nasional, 8,17% diantaranya berasal dari jenis Hydro, 5,84% dari panas bumi, 0,74% dari Bahan Bakar Nabati (BBN) dan 0,20% dari jenis EBT lainnya.

Sedangkan dari sisi kapasitas pembangkit, total kapasitas pembangkit EBT mencapai 10.426 Megawatt (MW) atau 14,70% dari keseluruhan kapasitas terpasang pembangkit nasional. Hingga Mei 2020, total kapasitas pembangkit terpasang sebesar 70.901,30 MW.

Baca Juga: Stimulus listrik bagi pelanggan rumah tangga hingga bisnis-industri capai Rp 11,02 T

Angka itu naik dari kapasitas pembangkit terpasang pada tahun 2019 yang sebesar 69.678,90 MW. Artinya selama lima bulan di tahun 2020 ada tambahan kapasitas pembangkit terpasang sebesar 1.222,4 MW.

Berdasarkan kepemilikannya, dari 70.901,30 MW pembangkit yang terpasang, sebanyak 60,6% dimiliki oleh PLN. Sedangkan sisanya sebesar 26,5% dimiliki oleh pengembang listrik swasta alias Independent Power Producer (IPP), 7,7% dimiliki oleh pemegang Izin Operasi, 5,1% oleh Private Power Utility (PPU) dan 0,1% milik pemerintah.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×