Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Pendiri sekaligus pengendali PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Low Tuck Kwong, kembali menambah kepemilikan sahamnya di emiten tambang batubara tersebut. Pembelian saham BYAN berlangsung di tengah penurunan harga pascaakuisisi Bayan oleh perusahaan milik pengusaha Kalimantan, Haji Isam.
Merujuk keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Low Tuck Kwong membeli 500.000 saham BYAN. Pembelian saham BYAN berlangsung pada harga Rp 11.200 per saham dalam transaksi pada 13 Oktober 2026.
Dengan jumlah dan harga tersebut, Low Tuck Kwong diperkirakan mengeluarkan dana Rp 5,6 miliar untuk menambah pemilikan saham BYAN. Aksi ini dilakukan untuk tujuan investasi.
Setelah transaksi, kepemilikan Low Tuck Kwong di BYAN meningkat menjadi 3.316.666.832 saham, dari sebelumnya 3.316.166.832 saham.
Meski jumlah saham bertambah, persentase kepemilikannya tetap sebesar 9,95% dari total saham perseroan. Low Tuck Kwong juga menyatakan akan mempertahankan pengendaliannya di BYAN.
Baca Juga: Harga Saham HMSP Naik 4%, Asing Borong Rp 19 M, Investor Ritel Pilih Beli / Jual?
Aksi pembelian tersebut berlangsung setelah terjadi perubahan besar dalam struktur kepemilikan saham Bayan Resources menyusul masuknya PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Jhonlin Baratama merampungkan pembelian saham BYAN pada 7 Oktober 2026 melalui transaksi di pasar negosiasi. Setelah transaksi tersebut, kepemilikannya mencapai 30,25% atau 10.084.088.370 saham.
Dalam transaksi tersebut, Jhonlin Baratama mengambil alih 10.067.421.703 saham milik Low Tuck Kwong dan 16.666.667 saham milik Elaine Low. Transaksi dilakukan pada harga Rp 2.588 per saham.
Manajemen BYAN sebelumnya menyatakan penyelesaian transaksi pengalihan saham tersebut tidak mengubah pengendalian perseroan.
Di pasar saham, harga BYAN ditutup pada level Rp 11.300 per saham pada perdagangan Rabu (14/10/2026), naik 50 poin atau 0,44% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Tonton: Saham AI Berguguran, Investor Mulai Meragukan Ledakan Investasi Teknologi
Namun, dalam lima hari perdagangan terakhir, harga saham BYAN tercatat melemah 10,32% atau setara Rp 1.300 per saham, berdasarkan data yang disampaikan.
Pergerakan harga tersebut terjadi setelah perubahan besar dalam struktur kepemilikan saham perseroan.
Meski demikian, perubahan kepemilikan dan fluktuasi harga saham tidak serta-merta menunjukkan perubahan prospek fundamental perusahaan.
Investor tetap perlu mencermati keterbukaan informasi perseroan, perkembangan bisnis pertambangan batubara, kinerja keuangan, serta likuiditas saham sebelum mengambil keputusan investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














