Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Adi Wikanto
Selain itu Telkomsel juga sedang mengevaluasi keikutsertaannya dalam lelang spektrum 1.4GHz dengan tetap memperhatikan efektivitas biaya dan manfaat strategis jangka panjang. Perusahaan juga menjajaki solusi fixed wireless access (FWA) dan mengoptimalkan penggunaan spektrum untuk mendukung ekspansi di masa depan.
"Pengalihan bisnis home broadband di bawah Telkomsel dimaksudkan untuk meningkatkan skalabilitas dan efisiensi operasional," terangnya.
Namun, analis Maybank Sekuritas, Etta Rusidana Putra berpandangan TLKM kurang tertarik karena sejumlah faktor. Pertama, tidak umum digunakan untuk FWA, yang mana perangkat terbatas dan belanja modal lebih tinggi.
Kedua, kontribusi dari FWA (Orbit Telkomsel) kecil. "Kami percaya 80MHz yang dibagi di antara 3 operator tidak akan cukup untuk mendapatkan internet seluler 100 Mbps (5G idealnya memiliki 100 MHz)," terangnya.
Ketiga, tidak ada informasi rinci tentang harga spektrum. Metode pembayaran sebelumnya cukup mahal, yakni dua kali biaya di muka ditambah biaya 1 tahun, berdasarkan harga penawaran.
Walau begitu, ia meyakini prospek positif TLKM lantaran mampu mengalahkan kompetisi karena memiliki backhaul yang kuat, baik secara internasional maupun domestik. Lalu sebanyak 38 juta home pass yang siap untuk dimonetisasi, yakni FBB prabayar.
Selanjutnya, neraca keuangan yang lebih kuat dan merupakan perusahaan telekomunikasi milik negara.
"Kami pikir TLKM hanya perlu bertindak lebih cepat, lebih gesit, menawarkan nilai, dan meningkatkan tingkat layanan/dukungan teknis kepada pelanggan," tegasnya.
Indy mencermati, berdasarkan laporan keuangan terakhir current ratio TLKM masih di bawah satu kali, yakni 0,70 kali. DER TLKM di 0,85 kali, yang menunjukkan kemampuan TLKM dalam mengelola utang cukup baik.
"Pertumbuhan laba bersih bisa mencapai 5% secara YoY, melihat secara historis tiga tahun dengan marjin laba bersih sekitar 15%-16% di tahun 2025," terangnya.
Katalis pendukung lainnya, kata Indy, berangkat dari kebijakan dividen TLKM. Perusahaan konsisten bagi dividend selama 3 tahun, hal ini dapat menarik para investor juga.
Selain itu, baru-baru ini ada program Danantara yang akan membantu optimalisasi asset TLKM. "Program ini perlu dipantau juga karena diharapkan dengan program ini maka efisien untuk TLKM tetapi perlu dipantau implementasinya juga," sebutnya.
Nah, tercermin dari pergerakan asing yang masuk ke TLKM. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepekan terakhir asing mencatatkan net buy sebesar Rp 102,6 miliar, kendati harga sahamnya telah terkoreksi 8,21%.
"Asing masuk salah satunya ada sentimen dari peluncuran Danantara yang diharapkan dapat mengoptimalkan aset TLKM dan juga kinerja keuangan TLKM yang masih cukup stabil sehingga untuk investasi jangka panjang, TLKM masih menarik," paparnya.
Dus, Indy merekomendasikan buy on weakness saham TLKM dengan target harga Rp 3.300. Adapun Etta dan Daniel merekomendasikan buy saham TLKM, masing-masing dengan target harga Rp 4.500 dan Rp 3.600.
Baca Juga: 4 Juta UMKM Sudah Dapat Pinjaman, Cek Syarat & Cara Pengajuan KUR BRI Februari 2025
Selanjutnya: Merdeka Battery Materials (MBMA) Memasang Mode Ekspansi
Menarik Dibaca: 6 Rekomendasi Drakor Tentang Persahabatan Para Perempuan dengan Cerita Hangat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News