kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Harga obligasi tinggi, ini yang perlu diwaspadai investor


Kamis, 17 Oktober 2019 / 21:10 WIB

Harga obligasi tinggi, ini yang perlu diwaspadai investor
ILUSTRASI. Aktivitas karyawan yang memantau perdagangan obligasi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Melesatnya indeks Inter Dealer Market Assosiation (IDMA) dan Indeks Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ke level tertinggi, menjadi sinyal bahwa pasar obligasi tengah menanjak hingga akhir tahun. Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Rabu (16/10) indeks IDMA tercatat naik 0,12% ke level 101,18 sekaligus jadi level tertingg. Begitu juga dengan ICBI yang tercatat menguat sebanyak 0,11% ke level tertinggi 268,96.

Senior Vice President Recapital Asset Management Rio Ariansyah menjelaskan, kenaikan harga obligasi disebabkan faktor penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, arus masuk dana asing atau inflow investor dari pasar saham ke pasar surat utang turun menjadi penyokong kenaikan harga obligasi.

"Tidak ada bahayanya kalau harga naik terus, apalagi kenaikan itu sementara sudah mencerminkan kondisi fundamental," ujar Rio kepada Kontan.co.id, Kamis (17/10).

Baca Juga: Harga obligasi tinggi, ada peluang untuk masuk sebelum terlambat

Di sisi lain, Rio juga mengaku bahwa kekhawatiran terhadap kondisi eksternal perlu tetap diwaspadai. Salah satunya, perkembangan negosiasi perang dagang antara AS dengan China.

Menurutnya, kekhawatiran dari faktor eksternal khususnya perang dagang AS dan China memang masih akan menghantui ke depan. Ditambah lagi, muncul ancaman adanya resesi ekonomi global yang bakal membayangi prospek pasar obligasi di tahun depan.

Meskipun begitu, Rio masih optimistis sampai akhir tahun potensi harga obligasi masih akan terus mengalami kenaikan. Untuk tenor 10 tahun, Rio memperkirakan yield bakal menuju 6,5%, sedangkan untuk tenor 5 tahun bakal berada di level 6%.

Baca Juga: Prospek positif, pasar obligasi bakal ramai di akhir tahun

"Obligasi selalu diincar sejak awal tahun, bagi korporasi saat ini mungkin bisa membeli secara simultan. Sedangkan untuk nasabah ritel, biasanya menunggu koreksi harga dulu, baru masuk," tandasnya.


Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×