kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Harga Nikel dan Aluminium Naik, Biaya Industri Otomotif Berpotensi Terkerek


Minggu, 29 Maret 2026 / 14:56 WIB
Harga Nikel dan Aluminium Naik, Biaya Industri Otomotif Berpotensi Terkerek
ILUSTRASI. Smelter nikel Antam Mind ID - baterai kendaraan listrik (Dok/Mind ID)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

JAKARTA. Kenaikan harga aluminium dan nikel mendorong prospek kinerja emiten tambang, tetapi menjadi beban baru bagi industri manufaktur yang menghadapi kenaikan biaya produksi.

Melansir data Trading Economics pada penutupan perdagangan hari Jumat (27/3), aluminium naik 0,81% menjadi US$ 3.275 per ton. Sementara itu, nikel menguat 0,29% ke level US$ 17.215 per ton.

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan kenaikan harga kedua logam tersebut menjadi katalis positif bagi margin laba bersih perusahaan tambang. 

Ia menjelaskan, perusahaan tambang berpotensi menikmati kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP), sementara biaya operasional relatif stabil, kecuali jika terjadi lonjakan signifikan pada harga bahan bakar alat berat.

Baca Juga: Harga Logam Industri Variatif, Nikel dan Aluminium Menguat di Tengah Tekanan Global

"Secara psikologis, ini akan meningkatkan minat beli investor pada saham-sektor komoditas, yang berpotensi mendorong valuasi pasar emiten terkait," kata Wahyu saat dihubungi Kontan, Jumat (27/3/2026).

Sementara itu, tekanan justru dirasakan oleh sektor manufaktur, khususnya industri otomotif terutama kendaraan listrik (EV) serta konstruksi.

Menurut Wahyu, kenaikan harga aluminium akan mendorong biaya produksi rangka dan komponen, sedangkan harga nikel yang naik membebani produsen baterai.

"Jika produsen tidak mampu membebankan kenaikan biaya ini kepada konsumen akhir, margin keuntungan mereka akan tergerus. Hal ini juga dapat memicu cost-push inflation di tingkat retail," ujar Wahyu.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Angkat Harga Aluminium dan Nikel, Harga Timah Masih Tertekan

Wahyu menjelaskan bahwa kenaikan harga menciptakan momentum bullish yang kuat untuk strategi trend following

Lebih lanjut, Wahyu menilai kenaikan harga logam ini juga menciptakan momentum bullish di pasar komoditas. 

Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik atau pelemahan dolar AS, investor cenderung memanfaatkan logam industri sebagai instrumen lindung nilai (hedging).

Baca Juga: Harga Aluminium dan Nikel Naik di Tengah Konflik Timur Tengah, Timah Anjlok

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...

Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×