kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Minyak Turun Tipis Akibat Kekhawatiran Pelemahan Ekonomi China


Senin, 11 September 2023 / 07:57 WIB
Harga Minyak Turun Tipis Akibat Kekhawatiran Pelemahan Ekonomi China
ILUSTRASI. Kekhawatiran ekonomi di China membebani prospek permintaan minyak mentah meskipun Brent tetap berada di atas US$ 90 per barel.


Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak turun tipis di awal perdagangan pekan ini. Kekhawatiran ekonomi di China membebani prospek permintaan bahan bakar meskipun Brent tetap berada di atas US$ 90 per barel, didukung oleh pengetatan pasokan setelah Arab Saudi dan Rusia memperpanjang pengurangan pasokan.

Senin (11/9) pukul 7.49 WIB, harga minyak WTI kontrak Oktober 2023 di New York Mercantile Exchange turun 0,82% ke US$ 86,79 per barel. Sedangkan harga minyak Brent kontrak November 2023 di ICE Futures melemah 0,53% ke US$ 90,17 per barel.

“Kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi China membebani sentimen seluruh komoditas,” kata analis ANZ dalam sebuah catatan yang dikutip Reuters.

Baca Juga: Saham Energi Tersulut Panasnya Harga Minyak

ANZ menambahkan, pergerakan ini diperburuk oleh menguatnya nilai tukar dolar AS, sehingga membuat minat investor tetap rendah. Nilai tukar dolar AS yang telah menguat selama delapan minggu berturut-turut.

Kedua kontrak harga minyak naik dalam dua minggu berturut-turut. Brent menetap di level tertinggi sejak Juli 2023 pada hari Jumat lalu. Penguatan harga minyak acuan internasional ini terjadi setelah Arab Saudi dan Rusia mengumumkan akan memperpanjang pengurangan pasokan sukarela sebesar 1,3 juta barel per hari hingga akhir tahun.

Badan Energi Internasional dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan merilis laporan bulanan mereka minggu ini.

“Setiap tanda kuatnya permintaan dari laporan pasar minyak dari IEA dan OPEC kemungkinan akan mendorong harga minyak lebih tinggi,” kata analis ANZ.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Naik ke Level Tertinggi Sejak Juli 2022 Karena Penurunan Pasokan

Di Amerika Serikat, para produsen menambahkan satu rig minyak pada minggu lalu untuk pertama kalinya sejak bulan Juni, kata Baker Hughes dalam laporan mingguan. Namun jumlah total rig beroperasi masih turun 127, atau 17%, lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

WTI kemungkinan sedang dalam proses menetapkan kisaran baru yang lebih tinggi di atas US$ 83 dan di bawah resistance di US$ 93,50 per barel dalam beberapa minggu ke depan. Kekhawatiran seputar permintaan di China dan Eropa membatasi kenaikan lebih lanjut, kata analis IG Tony Sycamore dalam sebuah catatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×