kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Harga minyak tersulut stok AS yang menyusut


Jumat, 22 Juli 2016 / 07:25 WIB
Harga minyak tersulut stok AS yang menyusut


Reporter: Namira Daufina | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Data stok minyak Amerika Serikat (AS) yang menyusut menjadi katalis yang mengangkat harga minyak West Texas Intermediate (WTI). Penguatan harga juga didukung oleh dugaan kenaikan permintaan minyak di Arab Saudi.

Analis memprediksi, penguatan harga minyak bisa bertahan hingga akhir pekan. Mengutip Bloomberg pada Kamis (21/7) pukul 17.38 WIB, harga minyak WTI kontrak pengiriman September 2016 di New York Mercantile Exchange naik 0,24% menjadi US$ 45,86 per barel dibandingkan hari sebelumnya. Namun sepekan terakhir, harga minyak terkikis 1,20%.

Suluh Adil Wicaksono, analis PT Millenium Penata Futures, mengatakan, data stok minyak AS versi Energy Information Administration (EIA) yang kembali turun memberi ruang harga minyak untuk naik dalam jangka pendek. EIA mencatat stok minyak AS turun 2,3 juta barel pekan lalu menjadi 519,5 juta barel.

“Ini tidak lantas mengubah tren, tapi cukup untuk menopang kenaikan harga sesaat,” ujar Suluh.

Hal ini disebabkan oleh tingginya katalis negatif yang membayangi harga minyak WTI. Maklum, belum terlihat ada kenaikan permintaan padahal AS sedang musim panas.

Lalu meski stok turun, EIA menyebutkan, produksi minyak AS meningkat 9.000 barel per hari menjadi 8,49 juta barel per hari.

Sementara itu, Menteri Minyak India melaporkan impor minyak mentah India Juni 2016 hanya sebesar 3 juta metrik ton, turun dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar 3,1 juta metrik ton.

Permintaan Arab Saudi

Di sisi lain, analis SoeGee Futures Nizar Hilmy bilang, saat ini permintaan minyak di dalam negeri Arab Saudi sedang naik signifikan karena suhu yang sangat tinggi sehingga konsumsi listrik meningkat.

Tapi Arab Saudi enggan menambah produksi untuk menjaga harga minyak. “Fundamental Arab Saudi bisa jadi angin segar buat harga minyak WTI global,” jelas Nizar.

Stok minyak Arab Saudi periode Oktober 2015–Mei 2016 berkurang 12% menjadi 289 juta barel jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan produksi minyak Arab Saudi saat ini 10,5 juta barel per hari.

Tapi selagi pasar belum mendapatkan bukti data kenaikan permintaan yang tajam, harga akan tetap dipengaruhi faktor yang terlihat dulu seperti dari AS. Menurut Nizar, meski tren bearish, harga minyak masih konsolidasi dan belum akan menembus level di bawah US$ 40 per barel.

Secara teknikal, Nizar melihat kenaikan harga minyak WTI terbatas. Harga sudah di atas moving average (MA) 10 namun masih di bawah MA 25. Selain itu, stochastic di area 18 masuk area oversold dengan indikasi rebound berlanjut. RSI level 44 mengarah turun.

MACD berpola downtrend. Nizar menduga harga minyak WTI Jumat (22/7), bergerak di kisaran US$ 45–US$ 47 per barel dan pekan depan antara US$ 44,00–US$ 48,00 per barel. Suluh memperkirakan, hari ini di US$ 44,6– US$ 47,2 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×