kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

Harga Minyak Terkoreksi, Meredanya Konflik Timur Tengah Pangkas Risk Premium


Rabu, 10 Juni 2026 / 15:51 WIB
Harga Minyak Terkoreksi, Meredanya Konflik Timur Tengah Pangkas Risk Premium
ILUSTRASI. Harga minyak mentah dunia melanjutkan pelemahannya seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan meningkatnya pasokan global. (REUTERS/Eli Hartman)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia melanjutkan pelemahannya seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan meningkatnya pasokan global.

Mengutip Bloomberg, pada Rabu (10/6/2026) pukul 15.47 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2026 berada di level US$ 88,13 per barel, turun 0,08% dari sehari sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, harga minyak WTI turun 4,10%.

Analis komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai penurunan harga minyak mentah terjadi setelah pasar memperoleh kepastian bahwa Iran menghentikan operasi militernya terhadap Israel.

Baca Juga: Menthobi Karyatama (MKTR) Target Produksi Tandan Buah Segar 336.400 Ton pada 2026

Menurutnya, laporan mengenai peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz.

"Premium risiko yang sebelumnya tertanam pada harga minyak langsung menguap," ujar Wahyu kepada Kontan, Rabu (10/6).

Selain faktor geopolitik, Wahyu mengatakan terdapat faktor musiman yang ikut menekan harga minyak. Secara historis, periode menjelang akhir kuartal II sering bertepatan dengan masa pemeliharaan kilang sebelum memasuki puncak musim panas sehingga kebutuhan minyak mentah dari kilang cenderung berkurang.

Dari sisi pasokan, produksi minyak dari negara-negara non-OPEC+ seperti Amerika Serikat melalui shale oil, Guyana, dan Brasil juga terus meningkat. Kondisi tersebut mampu mengimbangi pasokan yang sebelumnya ditahan oleh negara-negara anggota OPEC+.

Di saat yang sama, kebijakan moneter ketat di berbagai negara turut  mempengaruhi penurunan harga minyak mentah. Kenaikan suku bunga Bank Indonesia serta sikap hawkish bank-bank sentral utama dunia telah menekan aktivitas manufaktur global, khususnya di Eropa dan China, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek permintaan energi dalam jangka panjang.

Wahyu memperkirakan hingga akhir kuartal III 2026 harga minyak masih bergerak dalam rentang konsolidasi yang cukup lebar, tetapi cenderung berada di bawah level puncak yang sempat terbentuk saat ketegangan geopolitik meningkat.

Baca Juga: Tokenisasi Emas hingga Stablecoin Berpeluang Meluncur, Industri Tunggu Aturan OJK

"Brent diproyeksikan akan bergerak dalam rentang rata-rata US$ 80 hingga US$ 100 per barel, sementara WTI kemungkinan besar akan tertahan di kisaran US$ 75 hingga US$ 95 per barel," kata Wahyu.

Menurutnya, melimpahnya pasokan dari AS serta lemahnya permintaan dari sektor pengolahan akan membatasi kenaikan harga minyak. Namun, penurunan harga juga diperkirakan tidak terlalu dalam karena OPEC+ berpotensi memperpanjang pemangkasan produksi apabila harga WTI turun di bawah US$ 80 per barel.

Dalam jangka pendek, pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah, data persediaan minyak mentah Amerika Serikat, serta indikator ekonomi China yang dapat mempengaruhi prospek permintaan energi global.

Wahyu menambahkan, harga minyak masih berpotensi berbalik naik apabila terjadi gangguan pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz atau Selat Bab el-Mandeb.

"Meskipun Iran menyatakan berhenti, jika terjadi serangan terhadap kapal tanker komersial di jalur pelayaran strategis, harga minyak dapat melonjak US$ 5 hingga US$ 10 dalam semalam," ujar Wahyu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×