CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   17,00   0,09%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Harga Minyak Melonjak, Potensi Kenaikan Inflasi Disorot


Senin, 20 Juli 2026 / 12:21 WIB
Harga Minyak Melonjak, Potensi Kenaikan Inflasi Disorot
ILUSTRASI. Konsumen berbelanja di toko ritel modern di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) memperkirakan inflasi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia yakni 2,5% ± 1%. Meskipun risikonya kini semakin condong ke arah kenaikan dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. 

Mengutip Trading Economics Senin (20/7/2026) pukul 11.55 WIB, harga minyak mentah WTI mencapai US$ 84,26 per barel, naik 8,03% dalam sepekan dan telah melonjak 47,02% secara year to date (ytd). Sedangkan harga minyak mentah Brent mencapai US$ 90,28 per barel, naik 8,49% dalam sepekan dan telah melonjak 48,51% secara ytd. 

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi mengatakan, intervensi pemerintah dalam menjaga harga pangan yang bergejolak, penurunan harga LPG non-subsidi tertentu, serta dukungan bagi peternak ayam dan produsen telur diharapkan dapat menahan tekanan harga domestik dalam jangka pendek. 

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,27% ke Rp 17.969 per Dolar AS pada Senin (20/7) Siang

“Namun demikian, lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi secara bertahap mendorong kenaikan inflasi pada sektor transportasi, logistik, biaya produksi, serta harga yang diatur pemerintah,” ujar Prasetya dalam risetnya pada Senin (20/7/2026). 

Prasetya melihat ketahanan pangan tetap menjadi salah satu fokus utama dalam strategi makroekonomi pemerintah. Selain menjaga stabilitas pasokan daging ayam dan telur, pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memantau ketersediaan bahan pangan pokok setelah terjadinya fluktuasi musiman pada awal tahun. Keberhasilan Indonesia dalam menekan inflasi pangan dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan semakin pentingnya intervensi dari sisi pasokan, seperti peningkatan logistik, koordinasi produksi, dan pengawasan pasar, sebagai pelengkap kebijakan moneter. 

Oleh karena itu, Prasetya memandang bahwa investasi yang berkelanjutan pada produktivitas pertanian, infrastruktur rantai dingin, dan jaringan distribusi regional akan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga, terutama ketika variabilitas iklim dan volatilitas harga komoditas global masih memengaruhi pasar pangan domestik. 

“SSI mempertahankan proyeksi inflasi tahun 2026 sebesar 3,0%, dengan catatan bahwa gangguan berkepanjangan di sekitar Selat Hormuz dapat mendorong inflasi melampaui proyeksi dasar,” jelas Prasetya.

Baca Juga: ASII Siap Buyback Saham Rp8 Triliun: Intip Profil Emiten hingga Kinerja Terbarunya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×