Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga minyak global dan ketidakpastian pasokan energi dinilai menjadi katalis positif bagi prospek emiten kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) pada tahun ini.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, kondisi tersebut membuat kendaraan listrik semakin kompetitif dibandingkan kendaraan berbasis bahan bakar fosil.
“Ketika harga BBM meningkat, total cost of ownership kendaraan listrik menjadi relatif lebih kompetitif karena biaya operasionalnya lebih rendah dan tidak bergantung pada impor energi fosil,” kata Liza kepada Kontan, Selasa (31/3/2026).
Baca Juga: Daya Beli Tertekan, Simak Rekomendasi Saham Sektor Otomotif
Menurutnya, di tengah konflik geopolitik yang memicu volatilitas harga energi, kendaraan listrik kini tidak hanya dipandang sebagai tren teknologi, tetapi juga sebagai solusi ketahanan energi.
Dari sisi permintaan, Liza melihat tren pertumbuhan kendaraan listrik masih solid, meskipun mulai memasuki fase normalisasi.
Penjualan battery electric vehicle (BEV) pada Januari 2026 tercatat mencapai 10.061 unit atau sekitar 15% dari total pasar otomotif nasional. Namun, secara bulanan, angka tersebut turun sekitar 52% dibandingkan Desember 2025.
“Hal ini mengindikasikan bahwa lonjakan sebelumnya sebagian dipengaruhi faktor musiman dan insentif. Ke depan, pertumbuhan masih berpotensi berlanjut, namun dengan laju yang lebih moderat,” jelasnya.
Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Mengancam Emiten di Sektor-Sektor Ini
Ia menambahkan, kenaikan harga BBM berpotensi menjadi akselerator adopsi EV, terutama bagi konsumen yang sensitif terhadap biaya operasional. Selain itu, tekanan terhadap APBN akibat subsidi energi juga dapat mendorong pemerintah mempercepat transisi ke kendaraan listrik.
Meski demikian, Liza mengingatkan bahwa percepatan adopsi EV masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi infrastruktur.
“Keterbatasan jumlah dan distribusi charging station masih menjadi bottleneck utama, khususnya di luar kota besar,” ungkapnya.
Oleh karena itu, menurutnya, kebijakan pemerintah ke depan tidak hanya perlu berfokus pada insentif fiskal, tetapi juga percepatan pembangunan ekosistem pendukung agar adopsi EV dapat tumbuh berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kondisi ini membuka peluang di sepanjang rantai nilai industri EV, mulai dari produsen kendaraan hingga pemasok bahan baku.
Liza menilai emiten otomotif seperti PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) berpotensi menangkap pertumbuhan permintaan.
Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Emiten Grup Triputra, Bedah Prospeknya di 2026
Sementara itu, emiten berbasis komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) diuntungkan dari meningkatnya kebutuhan nikel dan material baterai.
Namun, ia mengingatkan bahwa volatilitas sektor ini masih cukup tinggi karena sensitif terhadap kebijakan pemerintah, harga energi, serta dinamika global.
“EV di Indonesia memang belum sepenuhnya bebas fosil, namun tetap lebih efisien. Tantangannya bukan hanya pada sumber energi, tetapi pada seberapa cepat perbaikan bauran listrik dan infrastruktur pendukung,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













