kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Harga minyak masih bisa kembali ke US$ 80 di akhir tahun


Jumat, 13 Juli 2018 / 07:49 WIB
ILUSTRASI. Harga minyak


Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak bergerak tipis menjelang akhir pekan ini. Jumat (13/7) pukul 7.28 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2018 di New York Mercantile Exchange turun tipis ke US$ 70,32 per barel dari posisi kemarin pada US$ 70,33 per barel.

Dalam tiga hari perdagangan terakhir, harga minyak cenderung flat setelah merosot lebih dari 5%. 

Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman September 2018 di ICE Futures cenderung mendatar dalam tiga hari. Harga minyak acuan internasional ini berada di US$ 74,32 per barel, turun 0,17% jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin.

Pada hari Rabu, harga minyak brent merosot 6,92%. Di hari yang sama, harga minyak WTI turun 5,03%. 

National Oil Corp di Libya mengatakan akan membuka empat terminal ekspor minyak yang sebelumnya ditutup. Pembukaan empat terminal ekspor ini akan menambah pasokan 850.000 barel per hari. 

Menurut data International Energy Agency yang dikutip Reuters, OPEC hanya menambah pasokan 230.000 barel per hari di bulan Juni. Di akhir bulan lalu, organisasi negara pengekspor minyak ini sepakat untuk menaikkan produksi.

Tapi, kenaikan produksi ini mungkin belum cukup untuk menutup penurunan produksi di Venezuela, Norwegia, dan Kanada. Brian LaRose, senior technical analyst ICAP-TA memperkirakan, harga minyak brent masih berpeluang naik ke US$ 80 per barel pada akhir tahun. Tapi jika harga minyak brent turun ke bawah US$ 7-0 per barel, pasar komoditas energi ini mungkin akan sulit bangkit lagi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×