kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Harga minyak ke level terendah sejak 18 April


Senin, 25 Juli 2016 / 23:10 WIB
Harga minyak ke level terendah sejak 18 April


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. Harga minyak dunia kembali ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan setelah tingginya pasokan membayangi pergerakan harga. Mengutip Bloomberg, Senin (25/7) pukul 19.45 WIB, harga minyak WTI kontrak pengiriman September 2016 di New York Mercantile Exchange tergerus 1,5% ke level US$ 43,53 per barel dibanding sehari sebelumnya.

Harga minyak telah tergerus di hari keempat dan berada di level terendah Sejak 18 April 2016. Sepekan terakhir harga minyak terkikis 4,1%.

Yulia Safrina, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures memaparkan, sentimen utama penggerak harga minyak masih terkait persediaan. "Memang tingkat persediaan minyak Amerika Serikat (AS) sedang turun, tetapi ada cadangan di beberapa wilayah yang meningkat. Beberapa proyeksi menyatakan belum ada potensi keseimbangan harga," paparnya.

Rilis terakhir dari Energi Information Administration, pasokan minyak AS turun 2,3 juta barel secara mingguan. Tetapi total cadangan minyak sebesar 519,5 juta barel atau angka tertinggi sepanjang tahun ini.

Di samping itu, Baker Hughes Inc pada akhir pekan lalu merilis rig pengeboran minyak AS naik 14 menjadi 371 rig atau kenaikan terbesar sejak Agustus 2015. Hal ini menunjukkan kenaikan aktivitas pengeboran yang berpotensi menambah pasokan minyak AS.

Tekanan harga minyak juga semakin bertambah dari kenaikan nilai tukar dollar AS menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini. Kini, outlook kenaikan harga minyak hanya tergantung dari sisi permintaan.

Namun jika melihat proyeksi pertumbuhan ekonomi global, harapan kenaikan permintaan minyak sulit tercapai. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi ekonomi global tahun ini akan tumbuh 3,1% atau lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 3,2%.

Sementara pertumbuhan ekonomi AS tahun ini diprediksi sebesar 2,2% atau lebih rendah dari prediksi sebelumnya sebesar 2,4%. Untuk China, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di angka 6,6%.

Angka tersebut jauh lebh rendah dari pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 6,9%. "Jika pertumbuhan ekonomi China dan AS sebagai konsumen utama minyak melemah, maka akan membawa sentimen negatif pada pergerakan harga minyak. Jika permintaan lemah, harga sulit naik," lanjut Yulia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×