kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Minyak CPO Mulai Menghijau, Bagaimana Prospek ke Depan?


Selasa, 20 Februari 2024 / 05:55 WIB
Harga Minyak CPO Mulai Menghijau, Bagaimana Prospek ke Depan?
ILUSTRASI. Pekerja mengangkut tandan buah kelapa sawit ke dalam truk di kawasan PT Perkebunan Nusantara II, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Sabtu (17/2/2024). ANTARA FOTO/Yudi/Spt.


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) mulai menghijau. Ketidakpastian iklim dan momentum puasa serta Lebaran menjadi pendorongnya.

Berdasarkan Trading Economics, harga CPO naik 1,47% ke MYR 3.865 per ton pada Senin (19/2) per pukul 18.37 WIB. Namun, secara umum harganya masih tertekan, terlihat sepekan terakhir harganya minus 0,92% dan sebulan terakhir minus 1%.

Research and development ICDX Jonathan Oktavianus mengatakan, penguatan harga CPO pada awal pekan ini terjadi di tengah rilis stok minyak sawit Malaysia pada akhir Januari yang turun 11,83% dibandingkan bulan sebelumnya. 

Ini disebabkan produksi minyak sawit mentah yang juga mengalami penurunan sebesar 9,59%, menurut data dari MPOB.

Baca Juga: Simak Prospek Kinerja Emiten CPO di Tengah Penurunan Harga Minyak Sawit Mentah

"Sementara itu, memasuki bulan Ramadan, India diharapkan sebagai produsen sekaligus pengguna terbesar, untuk meningkatkan ekspor hingga Hari Raya pada bulan April," terangnya kepada Kontan.co.id, Senin (19/2).

Jonathan berpandangan, kenaikan ini belum mengindikasikan pembalikan arah harga CPO yang masih tertekan. Apalagi tertekannya harga CPO akibat permintaan yang melambat dengan ekspor minyak sawit turun 0,85% menjadi 1,35 juta ton menurut data dari MPOB.

Di sisi lain, harga minyak kedelai US CBOT mengalami tren penurunan.

"Minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak terkait saat mereka bersaing untuk mendapatkan bagian di pasar minyak nabati global," paparnya.

Menurutnya, fokus pasar ke depan masih mencerna terkait kebijakan biodiesel dalam negeri. Selain itu situasi di negara importir utama India, China dan Uni Eropa, serta ancaman gangguan cuaca buruk yang mempengaruhi kelapa sawit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×