kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Minyak Bertengger di Area US$ 80 Per Barel, Simak Sentimen yang Memengaruhinya


Selasa, 22 Agustus 2023 / 19:44 WIB
Harga Minyak Bertengger di Area US$ 80 Per Barel, Simak Sentimen yang Memengaruhinya
ILUSTRASI. Harga minyak global dalam tiga bulan ke depan akan dipengaruhi oleh situasi di dua negara ekonomi besar dunia.


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak global dalam tiga bulan ke depan akan dipengaruhi oleh situasi di dua negara ekonomi besar dunia. Kedua negara ini adalah Amerika Serikat (AS) dengan tingkat inflasi serta kebijakan suku bunga acuannya dan China dengan isu perlambatan ekonominya.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, perlambatan ekonomi China memberi rasa khawatir terhadap permintaan minyak. Hal membuat harga minyak saat ini masih bertengger di area US$ 80 per barel.

Isu inflasi AS dan suku bunga acuan The Fed masih menjadi penggerak utama. Isu ini memengaruhi pergerakan dolar AS yang pada akhirnya membuat harga minyak berfluktuasi.

"Bila suku bunga masih santer dinaikkan akan berdampak pada menguatnya dolar AS dan harga minyak pun bisa melemah," ucap Nanang saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (22/8).

Baca Juga: Harga Komoditas Turun, Neraca Transaksi Berjalan Kuartal II Berbalik Defisit

Selain itu, perlambatan ekonomi China terlihat dari ancaman deflasi yang semakin memperburuk permintaan China terhadap energi.

Di sisi lain, otoritas energi dunia OPEC dan OPEC+ masih mempertahankan produksi yang terbatas. Kedua lembaga ini meyakini kondisi permintaan global belum sepenuhnya membaik setelah Covid-19 dan eskalasi konflik geopolitik Rusia-Ukraina.

Nanang memprediksi, harga minyak akan stabil pada kisaran US$ 70 per barel-US$ 80 per barel sampai dengan akhir tahun 2023. Dengan catatan, OPEC tidak mengubah kuota produksinya hingga akhir tahun.

"Resistance harga cukup kuat berada pada level US$ 84 per barel, sedangkan area support di US$ 64 per barel," kata Nanang.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis Selasa (22/8) Pagi, Investor Ragu Permintaan China akan Pulih

Menurut Nanang, investor perlu lebih bijak untuk melihat harga minyak yang kemungkinan bisa kembali melandai. Potensi ini terjadi ketika kondisi ekonomi membaik sehingga meningkatkan permintaan energi.

Dengan kuota pasokan terbatas, peningkatan permintaan akan membuat harga minyak naik. Namun, apabila kuota produksi kembali dinaikkan, maka akan berdampak melemahnya harga minyak dunia.

Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono menambahkan, kenaikan harga minyak belakangan ini didorong oleh membaiknya kondisi ekonomi global yang lepas dari resesi. Apalagi, kondisi ekonomi AS juga terlihat cukup kuat.

Baca Juga: Jor-Joran Beri Subsidi ke Energi Fosil, Investasi EBT Jadi Terhambat

Tantangan justru berasal dari perlambatan pertumbuhan ekonomi China. Meskipun begitu, China dinilai sangat antisipatif dengan kebijakan moneter dan stimulusnya.

"Di sisi lain, OPEC+ terutama Saudi Arabia pun memotong suplai sehingga ikut mendukung kenaikan harga," tutur Wahyu.

Saat ini, harga minyak yang berkisar di US$ 80 per barel dinilai masih relatif wajar. Perkiraan harga dalam jangka pendek berada di kisaran US$ 75 per barel-US$ 85 per barel dengan rentang jangka menengah di US$ 65 per barel-US$ 95 per barel. Nilai tengah konsolidasi atau gravitasi untuk tahun ini di US$ 75 per barel.

Wahyu menyarankan trader untuk buy on weakness setiap harga minyak mendekati atau di bawah US$ 65 per barel. Sementara itu, saat harga minyak mendekati atau berada di atas US$ 95 per barel, maka trader bisa sell on strength.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×