kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Harga minyak bergerak cenderung flat menjelang akhir pekan


Jumat, 26 Juli 2019 / 07:34 WIB


Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak bergerak cenderung flat menjelang akhir pekan ini. Jumat (26/7) pukul 7.19 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2019 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 56,04 per barel, naik tipis dari harga penutupan kemarin pada US$ 56,02 per barel.

Sedangkan harga minyak brent untuk pengiriman September 2019 di ICE Futures turun tipis ke US$ 63,27 per barel dari hari sebelumnya US$ 63,39 per barel.

Dalam sepekan, harga minyak masih mencatat kenaikan setelah pekan lalu harga komoditas energi ini cenderung turun. Harga minyak WTI dan brent masing-masing menguat 0,54% dan 1,28% dalam sepekan ini.

Baca Juga: Sempat ditunda, proyek Belt and Road China di Malaysia lanjut kembali

Penopang terbesar harga minyak adalah kenaikan tensi di Teluk Persia. Reuters melaporkan bahwa Amerika Serikat (AS), Inggris dan beberapa negara akan bertemu di Florida untuk mendiskusikan perlindungan kapal yang melewati Selat Hormuz dari Iran.

Arab Saudi pun mendesak pembeli minyak untuk mengamankan pengapalan komoditas energi ini melewati Selat Hormuz yang menjadi jalur pengiriman 20% minyak global per hari.

Baca Juga: Gara-gara Perang Dagang, Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Termasuk Indonesia dipangkas

Saudi pun berniat meningkatkan kapasitas jaringan pipa timur-barat sebesar 40% dalam dua tahun ke depan sehingga ekspor minyak bisa menghindari jalur Selat Hormuz.

Di sisi lain, kenaikan harga terbatasi oleh perlambatan ekonomi dan permintaan minyak. Sejumlah angka PMI di AS dan Eropa berada di kondisi yang lebih lemah daripada ekspektasi. PMI sektor manufaktur dan jasa Jerman pun mencapai level terendah dalam tujuh tahun terakhir.

"Fluktuasi harga yang terjadi sejak awal pekan ini masih terjadi di tengah berbagai kejadian yang menyebabkan fluktuasi tinggi dan dipengaruhi oleh interpretasi yang bercampur. Ini ditambah lagi dengan aktivitas perdagangan algoritma," kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates dalam catatan yang dikutip Reuters.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×