kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.950   -23,00   -0,13%
  • IDX 6.042   158,10   2,69%
  • KOMPAS100 788   24,24   3,17%
  • LQ45 595   17,11   2,96%
  • ISSI 209   5,50   2,71%
  • IDX30 337   9,80   2,99%
  • IDXHIDIV20 413   11,25   2,80%
  • IDX80 89   2,65   3,06%
  • IDXV30 112   3,11   2,86%
  • IDXQ30 108   3,19   3,04%

Harga logam industri tumbang


Selasa, 29 November 2016 / 17:00 WIB


Reporter: Namira Daufina | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Pasca reli kencang, harga komoditas logam industri seperti tembaga dan nikel tumbang pada Selasa (29/11). 

Mengutip Bloomberg, Selasa (29/11) pukul 15.12 waktu Shanghai, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange jatuh 2,1% dari hari sebelumnya ke posisi US$ 5.757 per metrik ton. Harga nikel juga tumbang 2,2% ke level US$ 11.374 per metrik ton.

“Spekulasi yang terjadi di bursa komoditas China dan fundamental yang goyah akibat isu global, jadi penyebab koreksi yang diderita harga logam industri,” jelas David Wilson, Analis Citigroup seperti dilansir Bloomberg, Selasa (29/11).

Kabar terbaru, Shanghai Futures Exchange dan Dalian Commodity Exchange mengerek margin dan biaya untuk mengendalikan kegiatan trading frenzy yang terjadi pasca kenaikan harga komoditas yang agresif. Langkah ini menahan aktivitas pelaku pasar, sehingga menyebabkan harga logam industri terkoreksi.

“Ada spekulasi dan ketidakseimbangan pasar, sehingga balik lagi ke fundamental yang sekarang sedang negatif,” ujar Helen Lau, Analis Argonaut Securities Asia Ltd seperti dikutip Bloomberg. Fundamental masih dibayangi oleh pertemuan OPEC yang alot soal pemangkasan produksi minyak, dan mendekati jadwal pertemuan The Fed pada awal Desember mendatang.

Sementara, dari sisi proyeksi permintaan, Helen meramal, baik tembaga dan nikel keduanya masih positif. Sehingga koreksi harga diduga tidak akan berlangsung lama.

Goldman Sachs Group Inc melaporkan, kliennya di China masih memandang positif prospek harga komoditas logam industri. Salah satunya akibat pelemahan yuan yang bisa terus menjaga permintaan. Belum lagi ekspektasi geliat aktivitas infrastruktur di China juga bisa menyokong permintaan tembaga dan nikel di tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×