kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.943   24,00   0,14%
  • IDX 7.711   133,47   1,76%
  • KOMPAS100 1.077   18,47   1,75%
  • LQ45 788   15,37   1,99%
  • ISSI 273   5,07   1,89%
  • IDX30 419   8,93   2,18%
  • IDXHIDIV20 515   13,10   2,61%
  • IDX80 121   2,06   1,73%
  • IDXV30 139   2,88   2,11%
  • IDXQ30 135   3,02   2,28%

Harga Komoditas Menanjak, Kinerja Emiten Batubara Berpotensi Meningkat


Kamis, 05 Maret 2026 / 17:29 WIB
Harga Komoditas Menanjak, Kinerja Emiten Batubara Berpotensi Meningkat


Reporter: Dimas Andi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peluang perbaikan kinerja emiten-emiten produsen batubara cukup terbuka pada 2026. Hal ini seiring lonjakan harga batubara di tengah ancaman krisis energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip situs Trading Economics, harga batubara di pasar global sempat melesat 7,23% ke level US$ 138 per ton pada Rabu (4/3) kemarin atau level tertinggi dalam 15 bulan terakhir. Pada Kamis (5/3) pukul 16.40 WIB, harga batubara kembali terkoreksi 3,70% ke level US$ 132,90 per ton. Namun, dalam sebulan terakhir, harga batubara tengah berada dalam tren positif berkat penguatan 14,57%.

Penguatan harga batubara terjadi setelah penghentian operasional fasilitas Liquefied Natural Gas (LNG) Qatar yang memasok sekitar 20% LNG global akibat konflik militer Amerika Serikat-Israel dan Iran. Imbasnya, terjadi peralihan permintaan energi dalam skala global.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan menilai, lonjakan harga batubara belakangan ini cukup wajar sebagai kombinasi risk premium energi akibat konflik Timur Tengah yang memicu peralihan pasokan energi ke batubara. Ditambah lagi, kebijakan pemangkasan produksi dari Indonesia membuat pasokan batubara menjadi lebih ketat.

Baca Juga: Harga Batubara Melonjak7%, Cermati Faktor Pendorongnya

Dampak penguatan komoditas ini relatif positif bagi emiten batubara lantaran harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) berpotensi membaik. Akan tetapi, biasanya terdapat jeda karena kontrak dan waktu pengiriman batubara ke pelanggan.

"Alhasil, dampaknya ke kinerja kuartal I-2026 bisa mulai terlihat jika level harga batubara bertahan beberapa pekan dan porsi kontrak jangka pendek cukup besar," ujar dia, Kamis (5/3/2026).

Ekky menambahkan, dalam kondisi seperti ini, strategi yang perlu diperkuat emiten batubara antara lain optimalisasi penjualan tanpa mengorbankan kepastian volume, menjaga efisiensi biaya dan logistik yang berpotensi ikut naik ketika harga batubara tinggi, disiplin manajemen arus kas atau capital expenditure (capex), serta komunikasi kebijakan dividen.

Strategi yang perlu diperkuat emiten menurut saya adalah optimalisasi penjualan tanpa mengorbankan kepastian volume, menjaga efisiensi biaya dan logistik karena saat harga naik biasanya biaya juga ikut naik, serta disiplin manajemen kas atau capex dan komunikasi kebijakan dividen. Optimalisasi ekspor bisa dilakukan memanfaatkan dolar yang menguat, tetapi tetap realistis karena ada faktor DMO, kuota, dan kebijakan domestik, jadi lebih ke pengaturan alokasi dan timing penjualan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menimpali, emiten batubara perlu memaksimalkan penjualan ke pasar ekspor untuk memanfaatkan harga batubara global yang tinggi. Penjualan ekspor bakal makin menjanjikan ketika mata uang dolar AS menguat, sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan dan margin.

"Strategi kontrak jangka menengah juga penting untuk menangkap harga pasar aktual," imbuh dia, Kamis (5/3/2026).

Baca Juga: Harga Batubara Melesat: Peluang Cuan Investor di Tengah Transisi Energi?

Menurut Abida, fase harga batubara tinggi masih bisa berlanjut dalam jangka pendek mengingat pasokan energi global terbatas. Namun, risiko bagi emiten batubara tetap ada seiring permintan yang fluktuaktif dan tekanan dari biaya logistik akibat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Belum lagi, kebijakan energi bersih tetap menjadi sentimen yang membatasi permintaan batubara.

"Emiten dengan biaya rendah, kontrak ekspor kuat, dan fleksibilitas pasar akan lebih tahan banting," tutur dia.

Senada, Ekky bilang bahwa selama kondisi pasokan energi masih ketat dan sentimen geopolitik belum mereda, maka harga batubara bisa bertahan lebih kuat meski pergerakannya sangat dipengaruhi oleh peristiwa.

Baca Juga: Gangguan LNG Global, Prospek Batubara Indonesia Menguat

Tantangan bagi emiten batubara pada beberapa bulan mendatang  adalah normalisasi geopolitik yang bisa menurunkan harga minyak dunia dan mengurangi peralihan energi, perubahan kebijakan kuota ekspor, serta risiko permintaan global dan kenaikan biaya logistik.

Secara umum, Ekky menganggap saham sektor batubara masih layak dipertimbangkan selama harga komoditas bertahan tinggi. Namun, investor disarankan menggunakan strategi yang lebih aman seperti buy on weakness dan disiplin profit taking lantaran sektor ini cepat berbalik ketika harga komoditasnya koreksi.

Saham yang dapat dijadikan pilihan bagi investor adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (PTBA) yang punya keunggulan dari sisi likuiditas dan kebijakan dividen. Ekky menargetkan harga saham PTBA dan ITMG dalam jangka pendek bisa ke level Rp 3.200 per saham dan Rp 25.400 per saham.

Setali tiga uang, Abida juga menyebut saham PTBA dan ITMG layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga di level Rp 3.100 per saham dan Rp 27.300 per saham. Target harga ini mencerminkan potensi kenaikan saat harga batubara tinggi, namun tetap perlu pengelolaan risiko terhadap volatilitas pasar dan kebijakan energi.

Baca Juga: RKAB 2026 Belum Diputuskan, Cermati Rekomendasi Saham Emiten Batubara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×