Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kendati konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan harga minyak mentah global terus menanjak, nyatanya harga emas baik di pasar spot maupun Antam belum kembali semarak. Harganya saat ini masih bergerak di sekitar level terendahnya dalam sembilan bulan terakhir.
Melansir Trading Economics pada Selasa (21/7) pukul 15.22 WIB, harga emas spot bertengger di level US$ 4.064,50 atau melemah 3,0% dalam sebulan terakhir dan 5,9% Ytd.
Di sisi lain, harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia PT Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 9.000 per gram, dari hari sebelumnya Rp 2.610.000 per gram menjadi Rp 2.601.000 per gram.
Baca Juga: Penerbitan Panda Bond: Terbit dalam 2 Seri, Pemerintah Incar US$ 1 Miliar
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengatakan belum menguatnya harga emas dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS). Data terbaru mencatat yield US Treasury berada di level 4,58% atau naik 1,98% sebulan terakhir.
Kondisi ini membuat investor lebih memilih aset berbasis dolar AS dibandingkan emas, sehingga harga emas dalam dolar AS mengalami tekanan.
“Kenaikan yield obligasi ini karena potensi kenaikan suku bunga acuan AS akibat tekanan inflasi di AS karena harga minyak mentah naik. Peyebab harga minyak mentah naik ini karena kondisi perang Iran AS,” ujar Ariston saat dihubungi Kontan, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak sendiri dipicu oleh memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Jika konflik terus berlanjut dan distribusi minyak melalui Selat Hormuz semakin terganggu, harga minyak Brent berpotensi kembali menembus level US$ 90 per barel.
Meski demikian, Ariston berpandangan ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor yang mendukung prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang.
"Dunia yang terus berkonflik akan menaikkan daya tarik aset-aset safe haven seperti dolar AS dan emas. Saat ini kebetulan harga emas sedang berbanding terbalik dengan nilai dolar AS, tapi bukan berarti harga emas akan mengalami tekanan terus," katanya.
Selain itu, pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa juga dinilai masih menjadi penopang harga logam mulia tersebut.
Baca Juga: Ekspansi Bisnis Hidrogen, Jadi Katalis Positif Bagi Perusahaan Gas Negara (PGAS)
Terkait strategi investasi, Ariston menilai harga emas saat ini sudah berada di area support sehingga dapat dimanfaatkan investor untuk mulai melakukan akumulasi. Namun, ia mengingatkan agar pembelian dilakukan secara bertahap mengingat risiko koreksi masih terbuka.
Ariston memproyeksikan harga emas spot masih berpotensi menuju level US$ 4.500 per ons troi hingga akhir 2026.
Sementara itu, harga emas Antam diperkirakan dapat bergerak menuju kisaran Rp 2,8 juta per gram, didukung prospek kenaikan harga emas global dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
