Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Semakin memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mengerek kenaikan harga minyak mentah global. Kendati demikian, kondisi tersebut belum mampu mendorong penguatan emas secara signifikan.
Melansir Trading Economics pada Selasa (21/7/2026) pukul 17.00 WIB, harga emas bertengger di level US$ 4.064,50 atau melemah 3,0% dalam sebulan terakhir dan 5,9% sejak awal tahun (year to date/YTD).
Di sisi lain, harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia PT Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 9.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.610.000 per gram menjadi Rp 2.601.000 per gram.
Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan kondisi pasar saat ini dipengaruhi oleh tarik-menarik antara meningkatnya permintaan aset safe haven akibat konflik geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter yang tetap ketat.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,74% ke 6.340, Top Gainers LQ45: DEWA, CUAN, AMMN, Selasa (21/7)
Menurutnya, memanasnya konflik dan penghentian atau kendala jalur distribusi seperti Selat Hormuz secara instan memicu lonjakan harga minyak bumi. Bagi pasar keuangan, lonjakan harga energi berarti ekspektasi inflasi akan melonjak kembali (cost-push inflation).
“Ekspektasi inflasi tinggi ini direspons oleh pasar dengan mengantisipasi kebijakan moneter ketat dari bank sentral (seperti Federal Reserve). Akibatnya, yield obligasi pemerintah AS naik dan mata uang dolar AS menguat,” ujar Wahyu kepada Kontan, Selasa (21/7/2026).
Wahyu menjelaskan, kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika obligasi pemerintah AS menawarkan yield yang lebih tinggi, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar AS.
Selain itu, setelah mengalami reli yang cukup panjang sebelumnya, pasar juga melakukan aksi penyesuaian portofolio dan ambil untung (profit taking). Alhasil, sentimen negatif dari ekspektasi suku bunga tinggi lebih dominan dibandingkan dorongan positif dari meningkatnya risiko geopolitik.
Ditambah lagi, lonjakan harga minyak juga berpotensi memperkuat tekanan inflasi melalui kenaikan biaya logistik dan manufaktur. Kondisi ini membuat ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Dalam jangka panjang, emas tetap berfungsi sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, dalam jangka pendek hingga menengah, pergerakan harga emas lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga riil (real interest rates).
“Jika bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga, maka suku bunga riil akan meningkat. Kondisi ini membuat investor institusi lebih memilih dolar AS atau obligasi pemerintah AS sebagai aset safe haven, sehingga kenaikan harga emas menjadi terbatas," jelasnya.
Meski demikian, Wahyu berpandangan level harga emas saat ini mulai menarik untuk investor jangka panjang. Indikator teknikal seperti RSI dan stochastic juga menunjukkan kondisi mendekati area oversold.
Baca Juga: Harga Emas Tertekan Kenaikan Yield US Treasury, Simak Proyeksinya Hingga Akhir 2026
Oleh sebab itu, ia menyarankan investor untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap menggunakan strategi dollar-cost averaging (DCA), terutama bagi investor dengan horizon investasi lebih dari satu hingga tiga tahun.
Sementara bagi investor yang ingin melakukan pembelian dalam jumlah besar sekaligus (lump sum), Wahyu menyarankan untuk menunggu kepastian arah kebijakan Federal Reserve serta konfirmasi pergerakan teknikal di area support tersebut.
Untuk prospek hingga akhir 2026, Wahyu memperkirakan harga emas dunia berpotensi pulih apabila tekanan inflasi mulai mereda dan bank sentral mendekati akhir siklus pengetatan moneter.
Ia memproyeksikan harga emas spot berpeluang bergerak di kisaran US$ 3.500 hingga US$ 5.000 per ons troi. Sementara itu, harga emas Antam diperkirakan bergerak di kisaran Rp 2,5 juta hingga Rp 3,1 juta per gram hingga akhir 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
