Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah agresif The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan serta melonjaknya imbal hasil (yield) US Treasury membuat kilau harga emas global meredup tajam setelah sempat menyentuh rekor tertingginya.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 15.30 WIB, harga emas spot berada di level US$ 4.141,77 per ons troi, naik tipis US$ 26,06 atau 0,63% secara harian.
Baca Juga: VKTR Siap Rights Issue, Targetkan Dana Rp 3 Triliun untuk Perkuat Ekosistem EV
Namun level tersebut terkorekais dari level harga emas sebelumnya yang sempat menyentuh US$ 4.700. Penurunan tersebut dipicu oleh perubahan drastis ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Keputusan The Fed mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) ke level 3,75%–4,00%, kenaikan pertama dalam tiga tahun, ditambah sinyal dot plot yang menunjukkan 16 dari 18 pejabat masih mendukung kenaikan berlanjut, menjadi pemukul utama harga sang logam mulia.
Kondisi tersebut kian berat saat yield US Treasury tenor 10 tahun meroket hingga 5,23%, posisi tertinggi sejak 2007, diikuti indeks dolar AS (DXY) yang menguat ke kisaran 101.
Di saat bersamaan, eskalasi konflik di Selat Hormuz mengerek harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran timbulnya gelombang inflasi baru.
Pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66% hingga 70% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada Oktober mendatang.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menjelaskan kombinasi pengetatan suku bunga dan lonjakan harga energi saat ini merusak momentum harga emas.
Baca Juga: Indah Kiat (INKP) Siap Bayar Obligasi Dolar AS Jatuh Tempo
Aksi jual teknikal akibat jebolnya support US$ 4.300 serta pelepasan posisi ETF yang masuk di harga tinggi pada Agustus turut memperparah penurunan.
"Dalam situasi ini, tekanan suku bunga dan yield mengalahkan permintaan safe haven," ujar Sutopo kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).
Meski demikian, emas tetap memiliki penyangga struktural yang kuat. Bank sentral global mencatatkan pembelian hingga 289 ton pada kuartal II 2026 atau naik 62% secara tahunan, di mana China tercatat sudah 21 bulan berturut-turut menambah cadangan emasnya.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai koreksi tajam saat ini tidak otomatis menghilangkan fungsi dasar emas sebagai instrumen pelindung nilai (hedging) dan diversifikasi portofolio.
Namun, pemodal disarankan tidak terburu-buru mengambil keputusan secara impulsif.
"Untuk investor, saya tidak menyarankan melihat kondisi sekarang sebagai momentum untuk 'all in'. Lebih baik menggunakan strategi akumulasi bertahap, karena kita masih menghadapi risiko koreksi lanjutan," tutur Lukman kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).
Hingga akhir 2026, arah pergerakan emas diproyeksikan masih dibayangi volatilitas tinggi dengan pergerakan yang sangat bergantung pada rilis data inflasi, penggajian, serta tren harga minyak dunia.
Baca Juga: ENRG Gelar Rights Issue Rp 4,1 Triliun, Ini Potensi dan Risiko bagi Investor
Lukman memproyeksikan rentang harga emas pada akhir tahun 2026 berpotensi bergerak kembali naik dalam kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.900 per ons troi, terutama jika yield Treasury dan dolar AS mulai berbalik melandai.
Sementara itu, Sutopo memperkirakan skenario realistis harga emas hingga akhir 2026 berada di rentang US$ 3.900 hingga US$ 4.600 per ons troi, dengan titik tengah di kisaran US$ 4.200–US$ 4.300 per ons troi.
Skenario terburuk menuju US$ 3.700–US$ 4.000 dapat terjadi apabila The Fed menaikkan suku bunga dua kali lagi dan yield menembus level 5,5%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














