kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Harga Emas Berpotensi Terkoreksi Pekan Depan, Simak Proyeksi Analis Berikut


Minggu, 17 Mei 2026 / 14:11 WIB
Harga Emas Berpotensi Terkoreksi Pekan Depan, Simak Proyeksi Analis Berikut
ILUSTRASI. Pergerakan harga emas dan logam mulia diperkirakan masih akan tertekan, dibayangi penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS). (REUTERS/Mohamed Abd El Ghany)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga emas dan logam mulia diperkirakan masih akan tertekan, dibayangi penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan harga minyak mentah dunia pada perdagangan pekan depan.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS (DXY) berada di level 99,28 pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026). 

Sementara itu, minyak mentah jenis WTI dibanderol seharga US$ 105,42 per barel dan Brent berada di level US$ 109,26 per barel. 

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menilai indeks dolar AS pada pekan depan masih berpotensi menguat dengan level support di 97,300 dan resistance di 101,100. 

Baca Juga: Harga Energi Naik Tajam, Premi Risiko Geopolitik Meningkat Jadi Pemicu

Sejalan dengan itu, harga minyak mentah WTI juga diperkirakan melanjutkan penguatan dengan support di US$ 91,60 per barel dan resistance di US$ 110,60 per barel.

Menurut dia, penguatan dolar AS dan harga minyak akan menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga emas global dalam jangka pendek. 

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, harga emas dunia tercatat berada di level US$ 4.538 per ons troi dan harga logam mulia bersertifikat Antam mencapai Rp 2.769.000 per gram.

"Apabila melemah, support pertama itu di US$ 4.444 per ons troi. Kemudian untuk logam mulianya kemungkinan besar turun Rp 20.000 di Rp 2.749.000 per gram," ujar Ibrahim pada Minggu (17/5/2026).

Sementara, support kedua diperkirakan berada di level US$ 4.307 per ons troi dengan harga logam mulia turun ke Rp 2.685.000 per gram.

Di sisi lain, jika harga emas kembali menguat, resistance pertama diproyeksikan berada di US$ 4.639 per ons troi dengan harga logam mulia mencapai Rp 2.789.000 per gram. 

Adapun resistance kedua diperkirakan di level US$ 4.796 per ons troi atau mendekati US$ 4.800 per ons troi dengan harga logam mulia berpotensi naik ke Rp 2.880.000 per gram.

Baca Juga: Simak Proyeksi Rupiah di Pekan Depan Usai Cetak Rekor Terlemah

"Jadi untuk mencapai level Rp 2.900.000 kemungkinan sangat berat sekali," kata Ibrahim.

Ia mengatakan arah pergerakan emas saat ini masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait peluang kesepakatan antara AS dan Iran mengenai pembukaan Selat Hormuz.

Menurut Ibrahim, apabila tercapai kesepakatan dan Selat Hormuz kembali dibuka, maka ketegangan geopolitik berpotensi mereda. 

Namun, jika konflik Iran dan Israel terus memanas dan AS masih ikut campur dalam konflik tersebut, maka volatilitas harga emas akan semakin tinggi.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan hubungan dagang AS dan China. 

Ibrahim menyebut pertemuan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping membuka peluang meredanya perang dagang antara kedua negara.

"Ini kemungkinan besar akan menenangkan pasar," ujar Ibrahim.

Dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim menilai inflasi AS yang masih tinggi akibat kenaikan harga energi berpotensi membuat bank sentral AS tetap mempertahankan suku bunga tinggi tahun ini.

Ia menambahkan, penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah global berisiko mendorong bank sentral dunia kembali mengetatkan kebijakan moneternya secara serentak. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan harga emas.

Namun demikian, Ibrahim melihat permintaan emas dari bank sentral global masih cukup kuat, terutama ketika harga logam mulia mengalami koreksi. 

Menurut dia, sejumlah negara seperti China, India, negara-negara Eropa hingga Amerika Latin masih aktif menambah cadangan emas mereka.

"Pada saat harga logam mulia relatif lebih murah, ini akan dimanfaatkan oleh bank sentral global untuk melakukan pembelian," kata Ibrahim.

Ia juga menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan menahan penurunan harga logam mulia di pasar domestik. 

Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah ke kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.850 per dolar AS pada pekan depan.

Oleh karena itu, ia menilai kondisi koreksi harga emas dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mulai mengoleksi logam mulia sebagai instrumen investasi jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×