kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.716   73,19   1,30%
  • KOMPAS100 738   10,40   1,43%
  • LQ45 559   6,09   1,10%
  • ISSI 199   2,35   1,19%
  • IDX30 317   2,72   0,87%
  • IDXHIDIV20 390   0,52   0,13%
  • IDX80 84   1,04   1,26%
  • IDXV30 106   -0,24   -0,23%
  • IDXQ30 102   0,48   0,47%

Harga CPO menanti data ekspor Malaysia


Jumat, 29 September 2017 / 19:21 WIB


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diselimuti sentimen negatif. Meski demikian, masih ada sedikit peluang penguatan. Minyak sawit mentah kini bergantung pada data ekspor Malaysia yang akan dirilis pada Sabtu (30/9).

Dalam laporan terakhir untuk periode 1-25 September, ekspor minyak sawit Malaysia menurut Intertrek Serving Testing (ITS) tercatat naik 16,1% ke level 1,08 juta ton. Kemudian, menurut Sociate Generale de Surveillance (SGS) ekspor CPO menguat 15,6% ke level 1,11 juta ton. Kalau hasilnya kembali meningkat, harga minyak sawit berpotensi menguat.

“Sejauh ini fundamental masih cukup positif,” ungkap Agus Chandra, Analis PT Monex Investindo Futures, Jumat (29/9).

Selain dari Malaysia, peluang perbaikan harga juga datang dari Swiss. Demi membidik pangsa pasar baru, ternyata pemerintah tengah berusaha meningkatkan ekspor dengan melakukan promosi minyak sawit ke Swiss.

“Kalau ini berhasil ada kemungkinan permintaan bertambah,” imbuhnya.

Di akhir kuartal III, Agus menebak, harga CPO akan berada di kisaran RM 2.680-RM 2.720 per metrik ton. Menurutnya meski disokong fundamental yang positif, tetapi minyak sawit juga mendapatkan spekulasi negatif dari melemahnya harga minyak kedelai. Dengan harga minyak kedelai yang semakin murah, bisa jadi ekspor CPO ke China dan India akan melambat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×