kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Harga CPO Berpeluang Rebound, Ini Faktor Pendorongnya


Minggu, 24 Mei 2026 / 14:12 WIB
Harga CPO Berpeluang Rebound, Ini Faktor Pendorongnya
ILUSTRASI. Harga CPO menguat setelah anjlok tajam. Kombinasi sentimen ekspor dan minyak mentah kini jadi penentu arah. (ANTARA FOTO/ASWADDY HAMID)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga crude palm oil (CPO) kembali menguat di akhir pekan setelah sempat mengalami tekanan tajam pada perdagangan sebelumnya.

Pelaku pasar kini mencermati kombinasi sentimen ekspor, harga minyak mentah dunia, hingga kebijakan biodiesel domestik yang diperkirakan akan menentukan arah pergerakan CPO pada paruh kedua 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO kontrak Juni 2026 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup naik 0,6% ke level MYR 4.430 per metrik ton pada Jumat (22/5/2026). Secara mingguan, harga masih mencatat penguatan 0,9%, meski sempat anjlok 2,48% pada perdagangan Kamis (21/5/2026).

Sementara itu, kontrak Agustus 2026 yang lebih aktif turut menguat 0,63% secara harian ke level MYR 4.486 per metrik ton. Namun sebelumnya, kontrak tersebut juga terkoreksi 2,73% pada perdagangan Kamis.

Secara bulanan, harga CPO masih terkoreksi 2,03%. Meski demikian, sejak awal tahun atau year to date (YtD), harga CPO masih membukukan kenaikan sebesar 10,77%.

Analis komoditas sekaligus founder Traderindo, Wahyu Laksono, menilai volatilitas pasar CPO belakangan semakin dipengaruhi keterkaitannya dengan pasar energi global serta perkembangan geopolitik dunia.

Baca Juga: Saham Lapis Kedua Berguguran di Tengah Gejolak Pasar, Bagaimana Prospeknya?

Menurut dia, koreksi harga yang terjadi saat ini masih tergolong temporary retracement setelah sebelumnya harga sempat menyentuh area mendekati MYR 4.900 per ton.

"Penurunan ini dipicu pelemahan ekspor bulanan, terutama dari data pengiriman Malaysia pada paruh pertama Mei yang turun cukup signifikan akibat melambatnya permintaan dari India dan China," ujar Wahyu kepada Kontan, Minggu (24/5/2026).

Namun, ia menilai koreksi harga masih tertahan oleh kondisi fundamental yang relatif ketat lantaran pertumbuhan pasokan global tidak terlalu agresif.

Wahyu memperkirakan harga CPO cenderung bergerak sideways dalam jangka pendek dibandingkan memasuki tren bearish berkepanjangan. Menurutnya, pasar minyak nabati saat ini masih sangat sensitif terhadap dinamika energi global.

Dari sisi internal, tekanan harga datang dari lesunya data ekspor bulanan berdasarkan laporan Intertek Testing Services (ITS) dan AmSpec, bersamaan dengan meningkatnya produksi musiman di Asia Tenggara.

Sementara dari eksternal, penurunan harga minyak mentah dunia turut menjadi sentimen negatif bagi CPO. Ketika harga minyak bumi melemah, daya tarik ekonomi biodiesel berbasis sawit ikut menurun sehingga menekan premi risiko energi pada harga CPO global.

Baca Juga: Emiten Emas Panen Laba di 2026, Begini Prospeknya Sepanjang Tahun

Meski demikian, kondisi stok CPO dinilai masih cukup ketat sehingga membatasi penurunan harga lebih dalam.

Di Indonesia, data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan peningkatan konsumsi domestik untuk industri pangan dan program biodiesel berhasil menahan akumulasi stok berlebih.

Adapun di Malaysia, tingkat persediaan berada di bawah rata-rata historis menurut Malaysian Palm Oil Board (MPOB). Selain itu, pertumbuhan produksi global juga dinilai mulai melambat akibat keterbatasan ekspansi lahan dan penuaan tanaman sawit.

Wahyu menilai kebijakan mandatori biodiesel B40 menjadi penopang utama harga sawit domestik, terutama setelah pemerintah memutuskan mempertahankan implementasi B40 sepanjang 2026 dan menunda program B50.

"Dengan serapan domestik yang stabil di kisaran 15 juta hingga 16 juta kiloliter per tahun, surplus ekspor Indonesia otomatis berkurang sehingga pasokan global menjadi lebih ketat," kata Wahyu.

Ia menambahkan, penyesuaian pungutan ekspor sejak Maret 2026 juga membantu menjaga pendanaan subsidi biodiesel sekaligus menopang harga CPO domestik.

Memasuki kuartal III-2026, Wahyu memproyeksikan harga CPO berpotensi keluar dari fase konsolidasi dan mulai mengalami rebound secara teknikal maupun fundamental.

Dalam jangka pendek, harga CPO diperkirakan bergerak di kisaran MYR 4.400 hingga MYR 4.700 per ton dengan area MYR 4.350 sebagai support kuat.

Jika permintaan ekspor kembali pulih dan produksi tidak memenuhi ekspektasi pasar akibat faktor cuaca, harga berpeluang menguji level MYR 4.750 per ton.

Baca Juga: Dibayangi Volatilitas Harga, Prospek Emiten Sektor Emas Dibayangi Risiko

Sementara dalam jangka menengah, harga CPO diperkirakan bergerak di rentang MYR 3.900 hingga MYR 4.900 per ton.

Menurut Wahyu, salah satu faktor yang perlu dicermati pasar saat ini adalah interaksi antara geopolitik Timur Tengah, harga minyak mentah, dan kebijakan fiskal ekspor Indonesia.

Ia menjelaskan, meredanya tensi geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat membuat premi risiko pada harga minyak dunia menurun.

Dampaknya, harga CPO ikut terkoreksi karena melemahnya prospek ekonomi biodiesel.

"Ketika harga minyak dunia turun, nilai ekonomis konversi CPO menjadi biodiesel ikut melemah. Hal ini mendorong aksi profit taking di pasar minyak nabati," ujar Wahyu.

Selain faktor energi, pelaku pasar juga perlu mencermati realisasi produksi semester II-2026 serta keberlanjutan kebijakan restrukturisasi pungutan ekspor Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×