Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah menguat, dengan Brent bertahan di sekitar level tertinggi dalam lima bulan. Para investor memperhitungkan premi risiko geopolitik menyusul serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi serta laporan mengenai serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk.
Selasa (20/10/2026) pukul 11.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 naik 55 sen atau 0,50% menjadi US$ 110,10 per barel. Sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh US$ 110,70 per barel—level tertinggi sejak 20 Mei.
Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026, yang akan berakhir pada hari ini, naik 0,24% menjadi US$ 103,91 per barel. Kontrak untuk bulan Desember 2026, yang lebih aktif diperdagangkan, naik 39 sen, atau 0,40% ke US$ 98,93 per barel.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit menjelaskan, pergerakan harga minyak WTI sejatinya masih memiliki potensi kuat untuk melanjutkan penguatan, terutama setelah sukses menembus level penahan batas atas atau resistance minornya pada grafik mingguan.
Baca Juga: Adaro Andalan Indonesia (AADI) Mulai Buyback Saham Rp 5 Triliun Secara Bertahap
Secara teknikal, komoditas energi ini memang sempat mengalami pembukaan harga yang melorot (open gap down) usai menyentuh level US$ 104 per barel.
Kondisi tersebut memicu fase pullback di mana pasar secara alamiah menguji kembali area US$ 96,54, sebuah level resistance yang telah berhasil ditembus dan kini beralih fungsi menjadi titik support baru.
"Jika harga mampu bertahan di sekitar level US$ 96,54 dan kembali memperoleh dorongan beli dari pelaku pasar, WTI berpeluang melanjutkan kenaikan menuju resistance berikutnya di US$ 106,61," ujar Geraldo dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).
Meski struktur teknikal membuka ruang penguatan, laju menuju level tersebut tidak lepas dari pantauan pasar terhadap sentimen fundamental global.
Salah satu sorotan utama adalah munculnya wacana pelonggaran sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor energi Rusia.
Apabila skenario tersebut terealisasi, pasar global bersiap menghadapi masuknya tambahan pasokan minyak yang dapat mengubah keseimbangan fundamental dan memicu aksi jual lanjutan.
"Apabila tekanan jual meningkat dan harga menembus ke bawah level US$ 96,54, prospek bullish perlu dievaluasi kembali karena breakout yang terjadi sebelumnya berisiko kehilangan kekuatannya," terang Geraldo.
Baca Juga: Harga Emas Berpotensi Melorot ke Level US$ 4.066, Simak Sentimen yang Menyeretnya
Sebagai penyeimbang sentimen pasokan Rusia, eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah akan tetap bertindak sebagai katalis penahan laju penurunan harga minyak lebih dalam.
Kekhawatiran global terhadap potensi putusnya rantai distribusi energi akibat konflik diyakini bakal mengerek harga WTI kembali naik, menjaga momentum tren positif tetap hidup di tengah dinamika tarik-menarik sentimen pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














