Sumber: Cointelegraph | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga Bitcoin kembali menguat dan mendekati level tertinggi dalam satu bulan terakhir setelah reli tajam pada Rabu (4/3/2026).
Kenaikan ini terjadi di tengah volatilitas pasar yang dipicu ketegangan geopolitik global.
Berdasarkan data TradingView, harga BTC/USD melonjak sekitar 5% dalam sehari dan sempat menembus level US$ 71.000, menjadikannya posisi tertinggi dalam hampir satu bulan terakhir.
Baca Juga: IHSG Ambruk 4,57%! Simak Rekomendasi Saham ASII, GOTO, TINS untuk Kamis (4/3)
Lonjakan harga terjadi saat sesi perdagangan Asia, dengan Bitcoin berhasil melewati sejumlah garis tren penting, termasuk level 200-week exponential moving average (EMA) serta rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) tahun 2021 di kisaran US$ 69.000.
Analis pasar Lars Kooistra, yang dikenal sebagai The Composite Trader di YouTube, menilai pergerakan ini merupakan fase penentuan arah setelah periode akumulasi panjang.
“Sekarang adalah waktu penentuan. Kita melihat skema akumulasi yang sangat panjang, yang biasanya mengarah pada dua skenario: penutupan agresif di atas batas atas rentang harga untuk mencari likuiditas beli, atau penembusan semu yang diikuti pembalikan bearish menuju level rendah,” tulisnya di platform X dilansir Cointelegraph.
Sementara itu, trader Alan Tardigrade melihat potensi perubahan level resistensi menjadi support pada garis tren menurun di grafik harian.
Pandangan lebih optimistis datang dari trader Moustache yang menyebut perjalanan menuju rekor harga tertinggi baru telah dimulai.
Ia bahkan memperkirakan altcoin berpotensi mengungguli Bitcoin dalam reli berikutnya.
“Ini adalah retest yang sempurna terhadap rekor tertinggi 2021,” ujarnya.
Baca Juga: Cek Prospek dan Rekomendasi Saham Ancol (PJAA) Selama Momentum Libur Lebaran 2026
Faktor Makro Masih Jadi Perhatian
Meski demikian, sejumlah pelaku pasar tetap berhati-hati mengingat ketidakpastian perkembangan konflik di Timur Tengah.
Pasar global sebelumnya menyoroti dampak penutupan Selat Hormuz terhadap lalu lintas minyak dunia.
Perusahaan perdagangan QCP Capital dalam laporan terbarunya menyebut dunia kemungkinan akan mendesak Iran untuk membuka kembali jalur tersebut jika konflik berlarut-larut.
QCP menilai, penguatan Bitcoin bisa menjadi sinyal awal kembalinya minat terhadap aset berisiko (risk-on sentiment).
Baca Juga: Wacana Pembatasan Ritel Modern Tak Goyahkan Prospek AMRT, Cek Rekomendasinya
“Energi adalah input utama bagi industri modern dan rantai pasok AI. Ketika terganggu, dampaknya cepat terlihat pada ekspektasi inflasi, kepercayaan manufaktur, dan penilaian risiko,” tulis QCP.
Mereka memperkirakan volatilitas pasar masih akan berlanjut dalam sepekan ke depan. Namun, kekuatan harga Bitcoin saat ini dinilai bisa menjadi indikator awal perubahan selera risiko investor secara lebih luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













