kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.606.000   -27.000   -1,03%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Harga aluminium terkerek China dan AS


Jumat, 03 Februari 2017 / 19:23 WIB


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Adi Wikanto

JAKARTA. Aluminium semakin mengkilap setelah muncul upaya pemangkasan produksi China. Rencana pembangunan infrastruktur Amerika Serikat (AS) juga menyulut kenaikan aluminium awal tahun 2017.

Mengutip Bloomberg, Kamis (2/2) harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange menguat 0,55% ke level US$ 1.829 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Harga aluminium telah menanjak hingga 8% sejak akhir tahun lalu.

Wahyu Tribowo Laksono, analis PT Central Capital Futures menuturkan, efek rencana pembangunan infrastruktur Presiden AS, Donald Trump masih terasa pada laju harga aluminium hingga sekarang. Apalagi, pada bulan ini The Fed masih ragu terkait kebijakan moneternya.

Gubernur The Fed, Janet Yellen belum dapat menjelaskan kepastian naiknya suku bunga meski optimistis pada pertumbuhan ekonomi AS. Akibatnya, nilai tukar dollar AS melemah dan mengangkat aluminium.

Di samping pengaruh dari AS, faktor utama penggerak aluminium menurut Wahyu justru datang dari China. Negara tersebut berencana menghentikan sekitar 3,3 juta ton kapasitas produksi aluminium selama musim dingin untuk memerangi polusi udara.

Menjelang akhir bulan lalu, harga aluminium menguat tajam bahkan mencatat level tertinggi sejak Juni 2015 di US$ 1.867 per metrik ton di tanggal 24 Januari. "Kenaikan harga aluminium terjadi setelah ada laporan pemangkasan kapasitas produksi China," tutur Wahyu.

Alasan polusi menjadi faktor penting yang mendapat perhatian di China. Hal ini berbeda dengan tujuan pemangkasan produksi batubara China dengan tujuan mengangkat harga.

Ada banyak diskusi seputar kebijakan China untuk menutup smelter aluminium. Departemen Perlindungan Lingkungan China menyarankan industri aluminium China untuk menutup 30% pabrik peleburan aluminium dan 50% kapasitas penyulingan alumina di kawasan Shandong, Shanxi, Hebei dan Henan. Kawasan tersebut memproduksi sekitar 20% aluminium global. "Secara keseluruhan, sentimen masih cukup bagus untuk aluminium," lanjut Wahyu.

Koreksi harga masih wajar apalagi jika mencapai level overbought secara teknikal. Tetapi Wahyu melihat tren pergerakan masih bullish sampai kuartal pertama tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×