Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aluminium di pasar global melonjak setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas.
Melansir data Trading Economics, harga aluminium pada Jumat (6/3/2026) pukul 15.55 WIB naik 1,8% ke level US$ 3.339 per metrik ton.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan kenaikan harga aluminium akan berdampak pada industri otomotif, dirgantara, konstruksi, dan kemasan produk FMCG.
"Potensi substitusi bahan tetap ada, namun sangat terbatas oleh spesifikasi teknis dan biaya peralihan yang tinggi," kata Sutopo kepada Kontan pada Jumat (6/3/2026).
Baca Juga: SR024 Resmi Dibuka: Kupon Stabil 5,90% Saat Pasar Bergejolak.
Dalam industri konstruksi dan beberapa komponen otomotif, baja atau magnesium dapat menjadi alternatif jika rasio harga dan beratnya menguntungkan.
"Sementara industri pengemasan mungkin akan beralih lebih agresif ke plastik atau kaca meski menghadapi tantangan regulasi lingkungan," lanjut Sutopo
Namun, untuk aplikasi teknologi tinggi yang memerlukan konduktivitas termal dan rasio kekuatan-berat yang spesifik, substitusi hampir mustahil dilakukan dalam jangka pendek.
Hal yang sama disampaikan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono. Ia mengatakan substitusi aluminium sangat bergantung pada fungsi teknis dari produk.
Misalnya dalam konstruksi atau peralatan dapur, baja tahan karat (Stainless Steel) bisa menjadi alternatif, tetapi baja jauh lebih berat.
Plastik/komposit dapat digunakan untuk komponen otomotif atau kemasan tertentu, produsen mungkin beralih ke polimer yang diperkuat, meskipun ini bertentangan dengan tren keberlanjutan (anti-plastik).
Baca Juga: Harga Aluminium Melonjak, Industri Otomotif hingga FMCG Berpotensi Tertekan
"Dalam industri kabel listrik, aluminium adalah substitusi murah untuk tembaga. Jika aluminium naik terlalu tinggi, beberapa industri mungkin kembali mempertimbangkan efisiensi konduktivitas tembaga jika selisih harganya mengecil," kata Wahyu.
Wahyu mengakui kenaikan ini tampaknya masih sangat volatil mengikuti perkembangan berita dari Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













