kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.017   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Goldman Sachs kerek prediksi nikel karena tiga alasan ini, salah satunya Indonesia


Senin, 09 September 2019 / 07:37 WIB
ILUSTRASI. Pertambangan nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Penutupan tambang Filipina

Semakin menambah minimnya pasokan nikel global adalah rumor penambang nikel utama Filipina SR Languayn Mining Corp akan ditutup akhir tahun ini karena simpanan bijih berkurang.

SR Languayn saat ini mengekspor hingga 400.000 ton nikel per bulan dan penutupan tambangnya akan menghapus jumlah tersebut dari pasokan global.

Namun, penambang nikel lainnya di Filipina berencana untuk meningkatkan produksi tahun depan untuk menambal hilangnya produksi dari Indonesia dan Languayn.

Baca Juga: Nikel kian mahal, analis rekomendasikan empat saham ini

Pelebaran defisit pasar

Pada tahun 2018, produksi nikel Indonesia mencapai 560.000 ton, di mana sekitar 2 juta ton diproduksi setiap tahun di seluruh dunia.

Hasil riset The International Nickel Study Group menunjukkan, pasar mengalami defisit sebanyak 146.000 ton pada tahun lalu. Diprediksi, selisih tahun ini akan mencapai 84.000 ton.

Baca Juga: Soal larangan ekspor bijih nikel, Antam (ANTM) fokus selesaikan smelter di Halmahera

Dengan adanya pengajuan larangan ekspor Indonesia, maka akan terjadi defisit yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan untuk tahun depan. Angkanya kemungkinan menjulang di mana sekitar 10% dari pasokan global diperkirakan akan hilang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×