Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - TANGERANG. PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) menargetkan kontribusi maintenance, repair and overhaul (MRO) untuk segmen pesawat pertahanan bisa meningkat hingga 20% dalam lima tahun mendatang.
Direktur Utama Garuda Maintenance Facility Aero As Andi Fahrurrozi menjelaskan saat ini, kontribusi dari segmen MRO pertahanan sudah berkontribusi sebesar 10% dari total pendapatan GMFI.
Menilik kinerja kuartal I-2026, GMFI membukukan pendapatan sebesar US$ 114,93 juta. Jika menggunakan angka tersebut, maka kontribusi dari segmen pertahanan terhadap bisnis GMFI mencapai US$ 11,49 juta.
Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,15% ke Rp 17.836 per Dolar AS pada Rabu (19/8) Siang
"Tahun ini pendapatan dari segmen pertahanan atau defense itu mencapai 10% dari total pendapatan GMFI. Jadi target kami dari 10%, lima tahun ke depan kami targetkan bisa mencapai 20%," jelasnya, Rabu (19/8/2026).
Andi menjelaskan GMFI telah memiliki unit bisnis khusus yang menangani sektor pertahanan, yakni Strategic Business Unit (SBU) Defense. Unit tersebut telah dibentuk sejak 2021 untuk mengembangkan bisnis pemeliharaan armada militer.
Pengembangan bisnis defense GMFI tidak hanya berasal dari proyek C-130 Hercules. Perusahaan juga memperoleh sejumlah program offset untuk pesawat militer lain, termasuk A400M, Falcon dan Rafale.
Andi bilang pembagian pekerjaan dalam program offset dilakukan bersama industri pertahanan lain. GMFI dapat memperoleh porsi pekerjaan tertentu seperti avionik maupun struktur, sementara pekerjaan lainnya dapat ditangani oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI).
“Untuk A400M maintenance-nya, untuk Falcon dan untuk Rafale, jadi bagi-bagi. Misalnya GMFI dapat avioniknya, PTDI dapat engine-nya, kami dapat juga structure-nya,” ucapnya.
Baca Juga: Lanjutkan Penguatan, Cek Profil Emiten KIJA, Lini Bisnis, dan Kinerja Terbaru Q2 2026
Selain proyek modifikasi, GMFI juga menggarap perawatan reguler pesawat militer. Untuk armada Hercules, GMFI tetap akan menangani pekerjaan pemeliharaan setelah proyek modifikasi selesai.
Pengembangan kapabilitas tersebut juga terlihat dari proyek modernisasi C-130H. Pada pesawat A-1319, GMFI melakukan penggantian center wing box, peningkatan avionik dari sistem analog menjadi digital glass cockpit, serta inspeksi dan perbaikan struktur.
Andi mengatakan pengerjaan pesawat pertama membutuhkan waktu sekitar 36 bulan karena seluruh proses dilakukan dari tahap awal. Setelah itu, pesawat menjalani serangkaian test flight hingga 17 kali sebelum dinyatakan memenuhi persyaratan.
“Untuk pesawat berikutnya, prosesnya lebih cepat. Pesawat berikutnya 18 bulan. Jadi nanti pesawat nomor tiga dan empat tahun ini juga selesai, katanya.
Baca Juga: Rupiah Spot Melemah Tipis 0,01% ke Rp 17.864 per Dolar AS pada Rabu (19/8) Pagi
Andi menjelaskan seluruh pekerjaan modifikasi tersebut dilakukan oleh tenaga lokal GMFI dengan dukungan tim TNI Angkatan Udara. Kapabilitas tersebut diperoleh melalui program offset, termasuk transfer desain dan teknologi dari mitra terkait.
Selain C-130, GMFI juga mulai memperluas fasilitas operasional untuk mendukung bisnis MRO. Perusahaan telah membuka fasilitas di Bandara Pondok Cabe dan mulai mengoperasikannya untuk menangani perawatan pesawat.
GMFI juga memiliki fasilitas untuk menangani helikopter di Cibubur. Andi mengatakan pengembangan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas layanan MRO, baik untuk pekerjaan modifikasi maupun perawatan reguler.
“Kalau yang dikerjakan itu ada modifikasi, ada perawatan reguler. Ke depannya setelah ini beroperasi, kami akan tetap menjaga yang reguler,” kata Andi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
