Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Exchange Traded Fund (ETF) emas resmi meluncur di pasar modal Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kehadiran instrumen tersebut dapat memperkuat pendalaman sektor keuangan sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk mengejar posisi India dan melampaui Singapura.
Airlangga mengatakan, pengembangan ETF emas merupakan bagian dari upaya mendorong diversifikasi instrumen investasi di Indonesia. Menurutnya, semakin beragam produk investasi yang tersedia, semakin kuat pula pendalaman sektor keuangan nasional.
"Jadi kalau kita bisa dorong diversifikasi tentu akan lebih baik," ujar Airlangga dalam Peringatan 49 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia, di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Baca Juga: Harga Saham GIAA Melejit 33%, GMFI Lakukan Kuasi Reorganisasi Jadi Rp 19
Ia menilai Indonesia memiliki basis komoditas yang kuat, termasuk emas, sehingga pengembangan instrumen berbasis emas dapat menjadi salah satu peluang untuk memperbesar aktivitas pasar keuangan domestik.
Airlangga membandingkan perkembangan nilai ETF di sejumlah negara. Ia menyebut nilai ETF global mencapai sekitar US$ 4,047 triliun, sementara Amerika Serikat sekitar US$ 526 miliar, China US$ 45 miliar dan India US$ 17,5 miliar.
Dalam konteks Indonesia, Airlangga menyoroti kepemilikan emas di Pegadaian yang disebut mencapai sekitar 153 ton atau setara sekitar US$ 20 miliar. "India sebetulnya bisa kita balap dengan waktu cepat nih," katanya.
Bahkan, Airlangga optimistis Indonesia dapat melampaui Singapura dalam waktu relatif cepat melalui pengembangan instrumen ETF emas.
"Jadi kita akan dalam waktu cepat bisa melampaui Singapura dan dengan demikian tentu kita lebih dalam lagi," ujarnya.
Menurut Airlangga, kehadiran ETF emas juga membuka peluang yang lebih luas bagi investor institusi. Salah satunya perusahaan asuransi yang kini dapat memperoleh akses investasi emas melalui instrumen tersebut.
"Saya senang karena dengan ETF maka asuransi bisa invest emas. Sebelumnya kan asuransi tidak bisa investasi di bullion," katanya.
Baca Juga: Rupiah Dibayangi Kebijakan The Fed dan Geopolitik, Cek Proyeksinya untuk Besok (11/8)
Selain memperluas pilihan investasi, Airlangga menilai emas dalam bentuk ETF juga dapat meningkatkan likuiditas pasar. Instrumen tersebut diharapkan menghubungkan berbagai pelaku dalam ekosistem emas, mulai dari manajer investasi, bank kustodian, bank bullion, dealer hingga bursa efek.
"Dan emas bukan hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga meningkatkan likuiditas," ujar Airlangga.
Ia juga mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menetapkan Electronic Gold Receipt (EGR) sebagai efek yang dapat dicatat dalam portofolio ETF emas.
Menurut Airlangga, pengembangan ETF emas dan EGR diharapkan dapat memperkuat ekosistem investasi emas sekaligus mendorong pendalaman pasar keuangan Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
