Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan bergerak terbatas dalam enam bulan ke depan. Sementara itu, rupiah berpotensi kembali menghadapi tekanan hingga menembus level Rp 18.200 per dolar AS.
Di tengah berbagai sentimen negatif dari internal maupun eksternal, Chief Investment Officer (CIO) Makmur (PT Inovasi Finansial Teknologi) Stefanus Dennis Winarto memperkirakan IHSG dalam enam bulan ke depan akan bergerak dalam rentang 5.800-6.200 dalam skenario dasar.
Diketahui IHSG hari pada penutupan perdagangan Selasa (6/10/2026) melesat 1,21% secara harian menjadi 6.192,92. Dengan demikian, dalam dua hari ini, IHSG naik berturut-turut.
Baca Juga: BLOG Habiskan Seluruh Dana IPO Rp138,23 Miliar, Ini Penggunaannya
"Menurut saya, worst case-nya untuk Indonesia, regardless dari berita MSCI, kemungkinan besar IHSG akan trading within range saja. Mungkin di kisaran 6.000, sekitar 5.800 sampai 6.100–6.200," ujar Stefanus dalam Media Gathering Makmur di kantornya, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada katalis yang muncul di pasar. Jika katalis positif yang diharapkan tidak terealisasi, IHSG berpotensi bergerak relatif datar.
Namun, peluang penguatan IHSG tetap terbuka apabila terdapat katalis positif dari isu MSCI maupun koreksi di pasar saham berbasis artificial intelligence (AI).
"Kalau katalis yang tadi ada dua, yaitu MSCI dan misalnya ada koreksi dari pasar AI, kemungkinan itu akan lebih positif. Mungkin IHSG bisa ke 6.500, bahkan sampai 6.800," imbuhnya.
Sementara itu, Stefanus melihat prospek rupiah lebih sulit diprediksi. Mata uang garuda naik 18 poin atau 0,10% ke level Rp 17.899 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (6/10).
Meski menguat dalam jangka pendek, menurut Stefanus kondisi rupiah masih dalam tekanan. Salah satu faktor utama yang perlu dicermati adalah selisih suku bunga atau interest rate differential antara Indonesia dan Amerika Serikat. BI-Rate kini di level 5,75% kemudian suku bunga The Fed bertengger di level 3,75%-4%.
Saat ini, suku bunga di kedua negara tersebut masih berada pada level relatif tinggi. Stefanus memperkirakan The Fed akan berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga, meski tekanan inflasi AS masih menjadi perhatian. Kalau The Fed lebih hati-hati menaikkan suku bunga, artinya rupiah pun akan lebih terjaga.
Namun, kondisi tersebut masih dapat berubah apabila terdapat pernyataan atau kebijakan dari dalam negeri yang kurang mendapat respons positif dari pasar.
Baca Juga: Kenaikan Harga Ayam Dorong Prospek Emiten Unggas, Ini Rekomendasi Saham Pilihannya
"Kalau kepemimpinan kita membuat statement-statement yang kurang favorable untuk market, kemungkinan rupiah akan melemah lagi," ujar Stefanus.
Dengan posisi rupiah yang saat ini berada di sekitar Rp 17.900 per dolar AS, ia memperkirakan mata uang Garuda masih berpotensi melanjutkan tren pelemahan dalam jangka menengah.
Stefanus bahkan melihat rupiah berpeluang kembali mencetak level terlemah atau all-time low dan bergerak hingga sekitar Rp 18.100 - Rp18.200 per dolar AS pada enam bulan ke depan.
Menurut Stefanus, tekanan terhadap rupiah juga perlu menjadi perhatian karena pelemahan yang signifikan pada Maret hingga Juni 2026 sempat membuat investor kehilangan kepercayaan terhadap aset berdenominasi rupiah.
Kondisi tersebut mendorong sebagian investor mengalihkan dana dari aset berdenominasi rupiah ke instrumen investasi berdenominasi dolar AS.
"Tapi banyak mereka realokasi dari aset rupiah ke USD, pindahin ke reksadananya ke USD. Terutama untuk nasabah high net worth individual (HNWI)," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














