Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Dari situ, Nafan menyebut bahwa keberhasilan diversifikasi tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan menyelesaikan transaksi akuisisi, melainkan juga oleh kemampuan emiten dalam mengoptimalkan aset yang diperoleh, menjaga efisiensi biaya, memperkuat tata kelola, serta menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi pemegang saham.
"Dalam konteks tersebut, kualitas eksekusi pasca akuisisi akan menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan sekadar besarnya nilai transaksi," jelas dia.
Untuk ke depannya, Wafi memperkirakan tren akuisisi tambang batubara oleh emiten-emiten non-tambang masih dapat berlanjut selama harga batubara konstruktif dan ada keinginan jual dari pemilik aset tambang.
Emiten yang paling berpeluang menggelar ekspansi tersebut adalah mereka yang memiliki neraca keuangan kuat namun butuh mesin pertumbuhan kinerja yang baru.
Baca Juga: Ada Wacana Kenaikan Harga DMO Batubara, Emiten Ini Berpotensi Diuntungkan
Terlepas dari itu, investor diminta mewaspadai emiten yang masuk ke sektor batubara hanya untuk mengangkat harga saham, tanpa jaminan rencana operasional.
Dari sekian emiten yang berekspansi, SINI dinilai yang paling menarik karena KMS sudah beroperasi dan terbantu oleh rekam jejak PTRO sebagai induk perusahaan tersebut.
Sementara itu, FORU dengan rencana rights issue sebanyak Rp 27,1 triliun dinilai perlu pengawasan ketat atas pembeli siaga dan fairness opinion. Untuk MEJA, perlu dicermati juga dampak swap share terhadap valuasi saham dan nasib investor minoritas.
"Momentum masuk terbaik yaitu setelah RKAB disetujui dan operasi pertama terkonfirmasi, bukan saat pengumuman akuisisi," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














