kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45716,04   6,68   0.94%
  • EMAS913.000 0,55%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN -0.19%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.21%

Emiten CPO mengawali tahun ini dengan kabar positif


Senin, 07 Januari 2019 / 06:18 WIB
Emiten CPO mengawali tahun ini dengan kabar positif

Reporter: Jane Aprilyani | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten perkebunan crude palm oil (CPO) mengawali tahun ini dengan kabar baik. India sepakat menurunkan bea impor minyak sawit mentah dan minyak sawit yang telah disuling bagi negara-negara Asia Tenggara.

Awalnya, India menjalin kesepakatan dengan Malaysia dan akan menurunkan bea impor untuk CPO Malaysia menjadi 40% dari 44%. Tak hanya untuk CPO, India juga memangkas bea impor minyak sawit yang telah disuling dari Malaysia menjadi 45% dari sebelumnya 54%.


Berdasarkan perjanjian kedua negara tersebut, India memperluas kebijakan tersebut dengan negara Asia Tenggara (ASEAN). Pemerintah India memutuskan memotong bea impor CPO dari negara ASEAN selain Malaysia dari 44% menjadi 40%.

Sedangkan bea impor minyak sawit olahan dari ASEAN dipangkas dari 54% menjadi 50%. Kebijakan ini berlaku efektif pada 1 Januari 2019.

Kebijakan ini otomatis berdampak positif pada harga CPO. Ini terbukti dengan kenaikan harga CPO jika dibandingkan akhir tahun lalu. Harga CPO di bursa derivatif Malaysia untuk pengiriman Maret 2019 menguat 2,4% jika dibandingkan akhir tahun lalu, menjadi RM 2.172 per ton pada Jumat (4/1).

Analis Danareksa Sekuritas Yudha Gautama memprediksi, harga CPO di tahun ini bisa mencapai RM 2.550 per ton. "Sebab dengan penurunan bea impor di India maka harga CPO akan lebih kompetitif dibanding dengan minyak nabati yang lain," tulis dia dalam riset 2 Januari 2019. Apalagi menurut Yudha, India menyumbang 21% dari total ekspor Indonesia dan 15% dari Malaysia.

Kepala Riset OSO Sekuritas Ike Widiawati menambahkan, di dalam negeri juga ada kebijakan pemerintah yang mampu mengerek harga minyak sawit yakni B20. Karena alasan tersebut, dia percaya harga CPO bisa mencapai RM 2.700–RM 2.800 per ton pada 2019.

Meski begitu, Ike dan Yudha menyarankan hati-hati dalam memilih saham produsen CPO. "Kami mempertahankan posisi owerweight pada saham perkebunan dengan pilihan saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)," kata Yudha.

Menurut Yudha, perusahaan yang fokus di bisnis hulu murni akan mendapatkan manfaat lebih. Sementara Ike memilih saham AALI dan LSIP dengan target harga masing-masing Rp 16.000 per saham dan Rp 4.600 per saham.

Analis NH Korindo Sekuritas, Joni Wintarja menjagokan saham AALI dan LSIP untuk dibeli. Target harga sahamnya masing-masing Rp 16.925 per saham dan Rp 1.680 per saham.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.

Tag

TERBARU

[X]
×