kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.026,34   9,98   0.98%
  • EMAS975.000 -0,51%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Elang Mahkota (EMTK) Raih Hak Siar Liga Inggris, Begini Prospeknya


Senin, 11 April 2022 / 12:51 WIB
Elang Mahkota (EMTK) Raih Hak Siar Liga Inggris, Begini Prospeknya
ILUSTRASI. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) resmi menjadi pemegang hak siar Piala Dunia 2022 dan Piala Dunia U20 2023 di Indonesia.


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) mengumumkan memperoleh hak siar untuk liga Inggris.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewantoro berpandangan bahwa semakin banyak tayangan favorit yang diperoleh oleh grup tertentu, maka semakin besar potensi pertumbuhan jumlah pemirsa.

Nah, Liga Inggris yang berhasil didapatkan grup EMTK dilihatnya melengkapi tayangan olahraga yang sudah terlebih dahulu didapatkan oleh perseroan antara lain Piala Dunia, Liga Champions Eropa, Liga Indonesia dan Formula 1.

"Kami melihat strategi untuk lebih fokus ke segmen olahraga merupakan hal yang menarik karena orang akan cenderung rela mengeluarkan uang untuk berlangganan demi dapat menikmati siaran langsung tim favoritnya, ada keinginan untuk segera update," jelasnya kepada Kontan.co.id, Minggu (10/4).

Lanjutnya, dari sisi perebutan kue penonton TV dilihat melihat grup EMTK lebih agresif, terutama semenjak Vidio.com memperoleh pendanaan hingga US$ 150 juta tahun lalu dari Affinity yang membuat posisi kas perseroan cukup besar sehingga lebih leluasa dalam melakukan ekspansi.

Pendanaan ini juga membuat langkah Vidio.com menjadi unicorn tinggal selangkah lagi, dimana valuasi saat ini diperkirakan sudah mencapai US$ 900 juta.

"Seperti perusahaan start up teknologi lain, Vidio.com tentunya akan berusaha meningkatkan jumlah subscribers dengan berbagai konten dan promosi yang menarik, karena jumlah pelanggan ini akan jadi patokan valuasi dalam rangka mencari pendanaan lanjutan atau bahkan IPO suatu saat nanti," sebutnya.

Menilik riset Nielsen beberapa waktu lalu, ada peningkatan jumlah belanja iklan tahun 2021 sebesar 13% mencapai Rp 250 triliun dibanding tahun 2020.

Pandhu berpandangan hal tersebut menunjukkan potensi pendapatan untuk sektor media masih cukup kuat, yang mana segmen televisi masih menjadi sasaran utama para pengiklan dengan kontribusi hingga 78% dan disusul segmen digital sekitar 16%.

Nielsen juga memperkirakan pertumbuhan belanja iklan tahun ini sebesar 14%, lebih kuat dibanding tahun lalu seiring semakin pulihnya ekonomi pasca pandemi. "Oleh karena itu kami melihat sektor media masih akan mampu membukukan kinerja positif pada tahun in," katanya.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham-Saham Media dari Analis Kanaka Hita Solvera

Ia juga melihat pertumbuhan yang cepat di segmen digital diperkirakan akan dapat menyusul untuk beberapa tahun mendatang sehingga akan menjadi segmen yang perlu digarap lebih serius oleh para emiten.

Misalnya dengan menggandeng para pemilik channel favorit di Youtube untuk menayangkan kontennya di aplikasi mereka, sehingga penonton akan lebih betah tanpa perlu pindah-pindah channel atau aplikasi lain. Hal ini akan menjadi katalis bagi emiten yang mampu menggarap segmen digital lebih baik," sambungnya.

Secara kinerja keuangan, tahun lalu sektor media membukukan hasil yang positif, yang mana meraih rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah. Dari sisi bottom line pun juga sudah pulih dari pandemi sehingga dengan outlook positif tentu diharapkan kinerja tahun ini masih akan meningkat.

Dari sisi valuasi, dirinya melihat SCMA dan MNCN masih cukup menarik. PE SCMA berada di sekitar 15,8 kali, masih di bawah rata-rata PE 5 tahun terakhir sekitar 20 kali. Demikian pula dengan MNCN yang saat ini masih diperdagangkan pada PE 6,4 kali dibanding rata-rata 5 tahun terakhir sekitar 10 kali.

Profitabilitas masing-masing juga masih cukup kuat, ROE SCMA 18% dan MNCN 13%. DER masing-masing emiten juga cukup rendah, SCMA 0,3 kali dan MNCN 0,2 kali sehingga secara struktur modal sangat aman.

"Kami targetkan untuk 12 bulan ke depan SCMA dapat mencapai Rp 350 dan MNCN Rp 1.300, sehingga masih menarik untuk dikoleksi. Sedangkan untuk EMTK yang merupakan holding dari grup Emtek, kami melihat secara valuasi sudah relatif tinggi seperti PBV sudah mencapai 7 kali dan PE 600 kali berdasar laporan keuangan September lalu, secara kinerja juga tidak begitu stabil di mana bottom line bisa berbalik dengan cepat terkait dengan aksi korporasi yang dilakukan, sehingga lebih cocok untuk trading jangka pendek," tutupnya.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era Data Analysis with Excel Pivot Table

[X]
×