Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed dinilai membatasi potensi kenaikan harga komoditas emas. Mengutip Trading Economics Jumat (26/6/2026) pukul 17.05 WIB, harga emas menguat 0,49% secara harian ke level US$ 4.046 per troy ons. Dalam sepekan, harga emas terkoreksi 2,49%.
Alwy Assegaf, Research & Development Trijaya Pratama Futures mengatakan, harga emas bertahan stabil di atas US$ 4.000 per troy ons pada perdagangan Jumat. Namun masih berada di jalur penurunan jika dilihat dalam sepekan. Pelemahan tersebut terjadi karena sentimen hawkish dari Federal Reserve masih menjadi faktor dominan yang membebani pergerakan emas, meskipun perkembangan positif dalam upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran sempat memberikan dukungan terhadap pasar.
“Emas berhasil mencatatkan penguatan moderat setelah data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat dirilis sesuai dengan ekspektasi pasar,” ujar Alwy dalam risetnya, Jumat (26/6/2026).
Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi Jumat (26/6) Pagi, Namun Bertahan di Level US$ 4.000 per Ons
Tercatat, indeks harga inti PCE AS pada Mei naik 0,3% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar. Alwy bilang, data tersebut meredakan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat, sehingga mendorong pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang pada akhirnya memberikan ruang bagi harga emas untuk menguat.
Meski demikian, prospek kebijakan moneter AS masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada pertemuan sebelumnya dengan nada yang tetap hawkish, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 80%, sementara probabilitas kenaikan pada September berada di kisaran 63%.
Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi, Tertekan The Fed dan Reli Saham Teknologi
“Ekspektasi tersebut terus membatasi potensi kenaikan harga emas karena suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan logam mulia,” terang Alwy.
Di sisi lain, Alwy melihat kemajuan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran turut meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong harga minyak kembali ke level sebelum konflik dan membantu mengurangi kekhawatiran inflasi, sehingga permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai juga menjadi lebih terbatas.
Baca Juga: Harga Emas Antam Stagnan Rp 2.655.000 Per Gram, Buyback Naik Rp 20.000, Jumat (26/6)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














