kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.738.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

DVLA siap buyback di harga Rp 2.010 per saham


Senin, 02 Juni 2014 / 16:55 WIB
Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (3/1/2023). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.


Reporter: Amailia Putri Hasniawati | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Manajemen PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) telah menentukan harga pembelian kembali (buyback) saham dalam rangka merger.

Seperti yang telah diatur dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) pasal 62 ayat 1. Setiap pemegang saham yang tidak menyetujui tindakan yang mengakibatkan kerugian bagi perseroan atau pemegang saham terkait, berhak untuk meminta perseroan untuk membeli kembali (buyback) sahamnya dengan harga wajar.

Namun, buyback jangan sampai menyebabkan nilai kekayaan bersih perusahaan menjadi lebih kecil dari jumlah modal ditempatkan ditambah cadangan wajib.

Begitu pula, jumlah nilai nominal seluruh saham hasil buyback tidak melebihi 10% dari modal ditempatkan perusahaan. DVLA akan membeli saham investor yang tidak sepakat dengan merger di level Rp 2.101 per saham.

Dalam menentukan harga buyback, DVLA mengacu pada Peraturan Bapepam-LK (OJK) No. XI.B.2, yaitu harga rata-rata penhutupan saham DVLA selama 90 hari terakhir sebelum pengumuman ringkasan rancangan penggabungan. Adapun, pengumuman itu terbit pada 24 April 2014.  

Investor yang bisa mengajukan buyback adalah mereka yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham (DPS) DVLA per tanggal 16 Mei 2014. Hingga per akhir Maret 2014, pemegang saham DVLA terdiri dari Blue Sphere Singapore Pte.Ltd dan publik. Masing-masing menggenggam 92,66% dan 7,34%.

Porsi saham publik DVLA itu setara dengan 82,19 juta saham. Dengan demikian, perseroan harus menyiapkan dana sekitar Rp 165,22 miliar untuk mengantisipasi jika seluruh pemegang saham publik menolak rencana merger perseroan.

Selanjutnya, buyback ini berpotensi membuat jumlah saham publik DVLA menyusut. Manajemen DVLA berkomitmen akan memenuhi ketentuan jumlah minimal saham publik yang diatur oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu sebesar 7,5%.

"DVLA akan mempertahankan kedudukan sebagai perusahaan publik yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia," jelas manajemen DVLA dalam pengumuman resminya.

Sekadar tambahan, DVLA akan melakukan penggabungan (merger) dengan anak usaha, PT Pradja Pharin (Prafa). Dalam hal ini, DVLA akan bertindak sebagai pihak yang menerima penggabungan. Sedangkan Prafa sebagai perusahaan yang menggabungkan diri.

Manajemen DVLA menilai, merger perlu dilakukan seiring meningkatnya kompetisi dalam bisnis farmasi. Merger diharapkan bisa mampu menekan biaya produksi dan operasional secara keseluruhan.

DVLA memiliki pabrik yang berbasis di Gunung Putri, Bogor. Pabrik ini memproduksi kapsul gelatin lunak dan produk-produk cair. Sedangkan pabrik Prafa yang berlokasi di Citereup, Bogor, memproduksi injeksi steril dan produk-produk padat.

Dengan adanya merger, maka sinergi untuk melakukan integrasi produksi dan pemetaan produk juga diharapkan bisa berjalan lebih baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×