kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.021.000   -21.000   -0,69%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.145   -217,05   -2,95%
  • KOMPAS100 991   -29,98   -2,94%
  • LQ45 730   -21,38   -2,85%
  • ISSI 250   -9,71   -3,75%
  • IDX30 391   -9,25   -2,31%
  • IDXHIDIV20 487   -10,18   -2,05%
  • IDX80 112   -3,33   -2,90%
  • IDXV30 132   -2,54   -1,89%
  • IDXQ30 127   -2,74   -2,11%

Dolar AS Menguat, Mata Uang Asia Tertekan Imbas Tensi Perang Timur Tengah


Jumat, 13 Maret 2026 / 14:14 WIB
Dolar AS Menguat, Mata Uang Asia Tertekan Imbas Tensi Perang Timur Tengah
ILUSTRASI. Mata uang Asia seperti Yen dan Won melemah drastis terhadap Dolar AS. Konflik Timur Tengah jadi pemicu utama (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah mata uang Asia kompak berada dalam tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. Penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global menjadi salah satu pemicu utama tekanan pada valas Asia.

Melansir Trading Economics pada Jumat (13/3/2026) pukul 13.50 WIB, indeks dolar AS (DXY) berada di level 99,9 atau menguat 3,10% secara bulanan (MoM).

Sejalan dengan itu, pairing valuta asing (valas) USD/JPY di level 159,3 juga turut menguat 3,86% MoM. Pairing valas USD/CNY di level 6,89 naik 0,09% MoM, pairing valas USD/KRW di level 1.493,3 menguat 3,36% MoM, serta USD/INR juga tercatat menguat 2,03% MoM menjadi 92,6.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan dolar AS dipicu oleh meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak mentah.

Baca Juga: Proyeksi Harga Kripto, Analis Ungkap Skenario Bullish dan Bearish

Menurut Lukman, lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi global sekaligus mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, yakni Federal Reserve.

“Penguatan dolar AS dampak dari meningkatnya tensi perang di Timur Tengah. Kekhawatiran lonjakan harga minyak mentah dapat memicu inflasi dan menurunkan prospek penurunan suku bunga oleh The Fed,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (13/3/2026).

Ia menjelaskan, meskipun dampak inflasi akibat kenaikan harga minyak juga akan dirasakan negara lain, pasar menilai AS lebih mampu mengubah kebijakan sebab ekonomi AS relatif lebih kuat dibandingkan banyak negara lain di dunia (kecuali China). Selain itu, AS juga merupakan produsen energi terbesar sehingga dianggap lebih mampu bertahan dari potensi gangguan pasokan minyak mentah global.

Kondisi tersebut membuat dolar AS lebih diunggulkan oleh investor, sehingga memberi tekanan pada sejumlah mata uang Asia seperti yen Jepang, won Korea Selatan, hingga rupee India.

Lukman menilai pelemahan mata uang Asia masih berpotensi berlanjut selama ketidakpastian geopolitik masih berlangsung, tetapi peluang penguatan setelah konflik tetap terbuka.

Baca Juga: IHSG Melemah 0,7% ke 7.309,5 di Pagi Ini (13/3), Top Losers LQ45: MDKA, ISAT, ICBP

“Selama perang masih berlangsung, tekanan pada valas Asia masih berlanjut. Namun semua juga berpotensi rebound apabila perang berakhir,” tambahnya.

Di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya volatilitas pasar, Lukman menyarankan investor untuk tetap menjaga diversifikasi portofolio. Pasalnya, ketidakpastian global diperkirakan masih akan memicu perubahan sentimen pasar secara cepat.

Dengan asumsi konflik geopolitik masih berlangsung namun tanpa eskalasi lebih lanjut, Lukman memproyeksikan valas Asia masih berpotensi tertekan oleh penguatan dolar AS.

Hingga semester I 2026, Lukman memperkirakan nilai tukar dolar AS terhadap yen Jepang berada di kisaran 155–165. Sementara terhadap won Korea Selatan diproyeksikan bergerak di kisaran 1.500–1.550 per dolar AS. Adapun rupee India diperkirakan berada di rentang 94–96 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×