kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

DKFT: Kegiatan usaha kami tetap jalan


Rabu, 19 Februari 2014 / 12:28 WIB
DKFT: Kegiatan usaha kami tetap jalan
ILUSTRASI. Menara BNI Pejompongan, Jakarta Pusat.


Reporter: Amailia Putri Hasniawati | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Manajemen PT Central Omega Resources Tbk tengah menyiapkan jawaban atas tindakan bursa yang telah melakukan suspensi saham berkode DKFT mulai sesi I hari ini, Rabu (19/2).

Johanes Supriadi, Sekretaris Perusahaan DKFT mengakui, memang ada penghentian produksi di tambang-tambang nikel perusahaan. Sebelumnya, perusahaan menyatakan telah melakukan PHK terhadap ribuan karyawannya.

Namun begitu, hal itu tidak membuat kelangsungan usaha (going concern) perseroan terganggu. "Dari awal kami telah siapkan kompensasinya, yaitu dengan mengakuisisi Citra Sindo Utama (CSU), jadi kami tidak berhenti sama sekali" ujarnya ketika dikonfirmasi KONTAN, Rabu (19/2).

CSU merupakan perusahaan bijih besi. Estimasi sumberdaya tambang yang ada di Kepulauan Riau ini diperkirakan mencapai 43 juta ton. Adapun, produk yang dihasilkan adalah konsentrat besi. Kegiatan produksi ditargetkan mulai dilakukan pada Juni 2014.

Tahun ini, angka produksi bijih besi perseroan ditaksir mencapai 325.000 ton. Selama ini, DKFT memang mengandalkan penjualan produk nikel untuk menumpuk pundi-pundi perusahaan.

Ada tiga perusahaan nikel yang dikelola perseroan. Ketiga perusahaan itu adalah PT Mulia Pacific Resources (MPR), PT Itamatra Nusantara (IMN), dan PT Bukit Konawe Abadi (BKA). Adapun, MPR juga memproduksi tembaga dan emas.

Namun, dengan dihentikannya produksi nikel, maka praktis, andalan perseroan saat ini hanya pada CSU. Sadar akan kondisi ini, manajemen pun memperkirakan akan terjadi penurunan kinerja 2014.

Pendapatan perseroan akan terkoreksi dari Rp 859 miliar tahun lalu menjadi hanya Rp 370,5 miliar. Begitu juga laba bersih diperkirakan akan ikut merosot 66,3% menjadi Rp 115,87 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×