Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Chief Investment Office (CIO) DBS menilai kondisi investasi global memasuki 2026 berada dalam fase yang sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Dominasi kebijakan fiskal Amerika Serikat (AS), percepatan deglobalisasi, hingga lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) menjadi penentu utama arah pasar ke depan.
CIO DBS Hou Wey Fook menjelaskan bahwa defisit fiskal AS yang terus melebar berisiko mengaburkan kemandirian Federal Reserve. Jika pelonggaran fiskal dan moneter berjalan bersamaan, tekanan inflasi berpotensi meningkat kembali.
“Dalam kondisi seperti ini, aset riil menjadi elemen kritis bagi portofolio investasi karena terbukti menjadi lindung nilai yang efektif terhadap inflasi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (13/1/2026).
Baca Juga: IHSG Berpotensi Bergerak Konsolidasi pada Rabu (14/1), Simak Rekomendasi Sahamnya
DBS menilai infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia masih memiliki daya tahan kuat di tengah siklus inflasi yang berkelanjutan.
Di sisi lain, percepatan deglobalisasi akibat kebijakan proteksionis seperti “America First” meningkatkan biaya produksi dan menekan aliran perdagangan. Namun, momentum makro tetap ditopang oleh siklus investasi modal yang besar pada sektor AI dan pertahanan.
DBS mencatat hyperscalers diperkirakan menggelontorkan investasi sekitar US$ 1,4 triliun untuk infrastruktur AI pada 2025–2027.
Sementara itu, belanja pertahanan negara-negara NATO diproyeksikan naik dari 2% menuju 5% PDB pada 2035. Keduanya menjadi katalis struktural yang dapat mengubah lanskap industri dan teknologi global.
Meski peluangnya besar, DBS mengingatkan risiko euforia pada sektor AI, terutama terkait valuasi tinggi dan konsentrasi pasar. Munculnya circular financing juga harus diwaspadai karena mengingatkan pada dinamika pendanaan vendor pada akhir 1990-an.
Baca Juga: Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Investor Bisa Eksekusi Trailing Stop Bertahap
Hou menegaskan bahwa strategi navigasi investasi 2026 perlu menekankan empat pendekatan utama.
Pertama, mengikuti tren AI namun fokus pada perusahaan adaptor yang memanfaatkan AI untuk efisiensi, bukan yang agresif belanja modal.
Kedua, meningkatkan porsi aset riil sebagai proteksi inflasi.













