kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45700,06   2,33   0.33%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Dari delapan emiten yang IPO Januari, dua saham ini yang direkomendasikan analis


Rabu, 29 Januari 2020 / 18:37 WIB
Dari delapan emiten yang IPO Januari, dua saham ini yang direkomendasikan analis
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang Januari 2020, telah ada delapan emiten yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Hari ini, PT Putra Rajawali Kencana Tbk (PURA) resmi menjadi emiten ke delapan yang melantai di bursa.

Tujuh emiten lainnya yang telah melantai lebih dulu adalah PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO), PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR), PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) dan PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO).

Selain itu, ada pula saham PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR), PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN), dan PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND).

Baca Juga: Putra Rajawali (PURA) dukung kebijakan larangan truk ODOL

Namun, pergerakan saham-saham anyar ini tidak terlalu bagus. Tercatat, sebanyak lima dari tujuh saham anyar ini memberikan return yang negatif setidaknya dalam sepekan perdagangan. Kelima saham tersebut adalah DMND, PGJO, AMAR, AMOR, dan TRIN.

Saham DMND misalnya, telah terkoreksi 26,28% dalam sepekan. Saham PGJO juga telah ambles 16,82% dalam sepekan perdagangan.

Sementara itu, saham emiten sawit yakni CSRA justru melesat 36,14% dalam sepekan. Bahkan, jika menghitung pergerakan saham sejak IPO hingga penutupan saat ini, saham CSRA telah menguat 159%.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, investor mesti memperhatikan frekuensi perdagangan saham-saham tersebut. Jika minim frekuensi, berarti menandakan minat pelaku pasar terhadap saham tersebut minim dan tidak layak untuk dibeli.

“Karena dengan frekuensi yang menurun, likuiditas menjadi kecil sehingga sulit diperdagangkan,” terang William kepada Kontan.co.id, Rabu (29/1).

Di sisi lain, Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, jika saham yang baru saja IPO mulai menunjukkan penurunan harga, maka sebaiknya investor menghindari saham-saham tersebut.

Ia juga menyarankan investor untuk mencermati sisi bid dan offer.

“Untuk mengamankan lebih baik trading jangka pendek saja, jangan di-hold lama-lama jika kita belum memahami keadaan perusahaannya bagaimana,” ujarnya.

Untuk saham-saham anyar yang masih menunjukkan uptrend, ia juga merekomendasikan untuk melakukan trading buy saja.

Meski demikian, bukan berarti saham-saham ini tidak cocok untuk dikoleksi investor. Menurut William, saham DMND dan CSRA dinilai masih menarik.

DMND yang masuk dalam sektor consumers good dinilai masih memiliki prospek yang cerah tahun ini.

Baca Juga: Resmi melantai, saham Putra Rajawali Kencana (PURA) kena auto reject atas

Sementara itu, kenaikan saham CSRA yang cukup signifikan lebih disebabkan oleh sentimen teknikal belaka. Konflik antara Malaysia-India yang berujung pada pemboikotan crude palm oil (CPO) asal Malaysia dinilai tidak begitu berpengaruh terhadap saham CSRA.

“Penguatan CSRA faktor teknikal saja, yakni strong uptrend dengan posisi harga di atas MA5. Terkadang sentimen tidak membawa pengaruh terhadap saham secara keseluruhan,” sambung William.

Selain itu, kedua saham ini masih memiliki frekuensi perdagangan yang tinggi sehingga masih layak untuk dibeli. 

Dus, ia merekomendasikan beli saham DMND dan CSRA dengan harga penutupan hari ini.

Pada penutupan perdagangan hari ini, saham CSRA menguat 2,08% ke level Rp 550 per saham sementara DMND melemah 6,05% ke level Rp 1.010 per saham.




TERBARU

Close [X]
×