kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Dapat perhatian dari OJK terkait Bakrieland (ELTY), ini permintaan Forty


Jumat, 14 Desember 2018 / 19:33 WIB
 Dapat perhatian dari OJK terkait Bakrieland (ELTY), ini permintaan Forty
ILUSTRASI. Investor Tolak Reverse Stock ELTY

Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Forum Investor Ritel (Forty) yang menolak aksi korporasi reverse stock PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mengapresiasi sikap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mulai menunjukkan keseriusannya dalam merespons laporan mereka.

Dalam mediasi yang digelar di kantor OJK pada Senin (10/12), otoritas sengaja mempertemukan Direksi ELTY dengan Anggota Forty, untuk mengetahui perkembangan rencana reverse stock emiten tersebut, sekaligus respons dari investor.


Menurut Anggota Forty, Deni Alfianto Amris yang juga hadir pada saat mediasi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) Hoesen yang juga selaku pemimpin mediasi mulai menunjukkan keseriusannya untuk menggali lebih jauh motif dari rencana aksi korporasi ELTY tersebut.

"Saat itu, kami sampaikan aliran pinjaman dana dari PT Geo Link (kreditur) ke ELTY, berpindah ke anak usahanya Jungleland untuk menutupi pinjamannya ke BRI dan Bukopin. Ini jelas arahnya default. Dan Pak Hoesen bilang, dia enggak tahu itu," kata Deni kepada Kontan, Jumat (14/12).

Selanjutnya, Forty juga menyampaikan, masih banyak potensi atas landbank ELTY yang masih bisa dimanfaatkan. Di mana, emiten itu masih menguasai kepemilikan tanah 643 hektare di Sidoarjo Surabaya, 2 ha di Bali, 0,5 ha di Mega kuningan.

Ada juga 800-1.000 ha lahan di Sentul Bogor, dan 200 ha di Lampung, dan lain sebagainya.

"Kita ambil contoh di Sidoarjo, harga market rata-rata per meter Rp 2 juta dikalikan 643 hektare, totalnya sekitar Rp 12,9 triliun. Sedangkan, dalam laporan keuangan audited di state sebesar harga perolehan Rp 500 miliar, sehingga ada potensi gain atas revaluasi aset yang cukup di disclosure dalam laporan keuangan perusahaan sebesar Rp 12,4 triliun," paparnya.

Berdasarkan perhitungan Forty, total keseluruhan landbank yang dimiliki ELTY hampir Rp 20 triliun. "Perusahan ini masih punya harta karun untuk dapat memaksimalkan valuenya tanpa harus reverse stock dan hanya cukup fokus pada kinerja," ungkapnya.

Hanya saja, pada saat mediasi OJK tersebut, Forty menilai bahwa Direktur Utama ELTY Ambono masih meyakini, bahwa reverse stock merupakan jalan terbaik bagi perusahaan untuk memaksimalkan nilai perusahaan di masa depan.

Sedangkan, Forty justru melihat ada banyak dugaan pelanggaran dan kejanggalan atas aksi reverse stock ELTY. Seperti adanya inkonsistensi penggunaan dana kreditur yanng menyebabkan adanya piutang berelasi kepada entitas anak usaha, dalam hal ini PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE).

Ditambah lagi, ditemukan adanya transaksi pembelian dan penjualan saham PT Cahaya Sakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) pada 2017 senilai Rp 113 miliar, namun dijual kembali di pasar nego seharga Rp 57 miliar.

"Untuk itu, Forty tetap pada pendirian awal untuk menolak reverse stock dan meminta OJK untuk memeriksa dan menyidik atas substansi atau motif dari Direksi ELTY yang bersikeras untuk melakukan aksi korporasi tersebut," tandas Forty.

Sebagaimana diketahui, Geo Link siapkan pagu pinjaman untuk ELTY maksimal Rp 500 miliar. Sampai dengan 22 Desember 2017, emiten tersebut telah mencairkan pinjaman sebanyak Rp 100 miliar. Selanjutnya, dalam keterbukaan informasi BEI 23 Juli 2018, ELTY melampirkan adaya pencairan utang tambahan sebesar Rp 213,5 miliar.

Dengan begitu, total utang yang ELTY cairkan dari Geo Link adalah Rp 313,5 miliar. Dalam laporan tersebut, dijelaskan jika diperlukan, ELTY akan mengambil seluruh pagu pinjaman yang diberikan Geo Link Indonesia. Tujuannya, untuk memenuhi rencana bisnis ELTY ke depan.

Kenyataanya, usai melakukan pencairan utang tambahan pada Mei lalu sebanyak Rp 213,5 miliar, ditemukan penambahan utang ke JGLE. Di mana, berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2018 JGLE, utang berelasi ke ELTY sebesar Rp 68 miliar.

Sedangkan pada laporan keuangan kuartal I 2018, ditemukan bahwa utang berelasi naik Rp 168 miliar, atau naik sekitar Rp 100 miliar. Sedangkan pada laporan keuangan 30 Juni 2018, jumlah utang berelasi naik menjadi Rp 381 miliar atau sekitar Rp 213 miliar.




TERBARU

×