kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45812,30   5,40   0.67%
  • EMAS1.056.000 0,19%
  • RD.SAHAM -0.34%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Dana cash masih menjadi raja!


Jumat, 22 Januari 2016 / 11:02 WIB
Dana cash masih menjadi raja!

Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Bursa saham dunia bergerak bak roller coaster di gigi lima. Hal serupa menular ke bursa Jakarta. Kemarin, harga saham sempat naik tinggi di awal perdagangan pasar. Tapi, saat penutupan pasar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,31% menjadi 4.414,13.

Kelesuan ekonomi dunia dan penurunan harga minyak dituding menjadi biang kerok galaunya bursa. Bagaimana strategi investor di saat bursa berfluktuasi hebat?

Hendra Martono, Director and Head of Equity Brokerage Division Henan Putihrai sekaligus investor saham menyarankan investor memiliki trading plan yang baik menghadapi pergolakan indeks.

Menurut dia, daripada mendengarkan prediksi indeks, lebih baik investor menyiapkan trading plan dan responsif terhadap situasi terkini. "Saya malah menyarankan tidak perlu action apa-apa. Saya tidak akan kehilangan kesempatan selama punya cash. Kecuali kalau IHSG mulai bullish lagi," ujarnya kepada KONTAN, Kamis (21/1).

Pria yang biasa disapa Hok Hwan ini mengatakan, trader harus memiliki rencana sendiri dan tidak menjadi bagian rencana orang lain. "Kalau saya dalam posisi ini akan pilih cash, bukan keluar. Mungkin perlu berapa lama kita tidak beli, kita hanya perhatikan saham saja," ujar dia.

Dengan menggenggam cash atau hanya menaruhnya di bank, investor masih bisa mendapat bunga setidaknya 2%-3%. Bila memaksakan trading, potensi rugi bisa mencapai hingga 20%.

Investor senior Soeratman Doerachman mengatakan, jika melihat perkembangan Dow Jones yang mengarah ke bearish dan IHSG yang tidak tahu arahnya kemana, lebih baik mengambil instrumen yang relatif aman dan cash.

"Saat ini, cash is the king," ujar investor yang kerap disebut Eyang Ratman ini.

Saat ini Soeratman belum masuk ke pasar lantaran bursa tengah bergejolak. "Kalau ada waktu, saya lakukan swing trading. Cari saham yang likuid, volatil dan memiliki trading range lebar," lanjutnya.

Hal serupa dikatakan seorang sumber KONTAN. "Sisakan sekian persen dalam bentuk cash, untuk membeli saat harga jatuh," tegasnya.

Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities menyarankan investor jangka panjang berinvestasi di saham-saham berfundamental baik yang risiko dan volatilitasnya rendah.

Sedangkan investor risk taker bisa trading saham volume beli tinggi dengan menetapkan batasan risiko. Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker Indonesia, menyarankan investor wait and see, khususnya menunggu harga minyak dan Dow Jones menyentuh dasar.

"Sambil menunggu, saya masih percaya IHSG tahun ini akan berada di atas 5.000 atau bahkan 5.200, jadi ini koreksi sementara," ujar Satrio.

Ia masih merekomendasikan IHSG baik. "Kalau pun terkoreksi, paling hanya sampai level 4.200-4.300," ujar Satrio.

Muhammad Al'Amin, Analis Millenium Danatama Sekuritas menilai, strategi wait and see merupakan pilihan terbaik sambil mencermati saham berfundamental baik.

"Sebaiknya kurangi portofolio dan meletakkan uang di deposito serta obligasi," kata Amin.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×