kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Dana asing keluar, yield SUN kompak naik tajam


Kamis, 22 September 2011 / 16:55 WIB
ILUSTRASI. Petugas kebersihan melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/wsj.


Reporter: Dyah Ayu Kusumaningtyas | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Kepemilikan asing dalam surat berharga negara (SBN) semakin berkurang. Data direktorat jenderal pengelolaan utang negara (DJPU) per 21 September menunjukkan, dana asing di SBN susut 7,3% menjadi Rp 232,81 triliun, dibandingkan 9 September yang masih mencapai Rp 251,23 triliun.

Penarikan asing terhadap obligasi pemerintah memicu tren kenaikan pada yield surat berharga negara. Corporate secretary Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Tumpal Sihombing menuturkan, berdasarkan data IBPA Indonesia Government Securities Yield Curve (IBPA-IGSYC) memperlihatkan adanya kenaikan pada kurva yield di semua tenor obligasi pemerintah.

"Kenaikan yield dipimpin oleh obligasi pemerintah bertenor setahun yang naik sebesar 59 bps menjadi 5,6248%. Namun secara rata-rata, obligasi pemerintah tenor pendek (1 tahun - 4 tahun) naik 40,4 bps," jelas Tumpal, Kamis (22/9).

Kenaikan yield juga terjadi pada obligasi pemerintah tenor menengah (5 tahun - 7 tahun) yang secara rata-rata naik 31,2 bps. Kemudian disusul obligasi pemerintah tenor panjang (8 tahun - 30 tahun) yang naik 21,8 bps.

Menurut Tumpal, saat ini, pasar Indonesia tidak terhindar dari gejolak pasar finansial global. Ini terjadi setelah Bank Sentral AS menyatakan risiko penurunan ekonomi AS semakin signifikan. Kondisi semakin diperburuk oleh krisis Eropa yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

"Bahkan sentimen negatif global turut menyeret anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan koreksi yang terjadi pada IHSG merupakan yang paling parah di Asia," imbuhnya.

Lalu sentimen negatif juga datang dari hasil pertemuan Bank Sentral AS yang memutuskan The Fed akan menjual surat utang pemerintah AS berjangka pendek untuk menukarnya dengan surat utang yang berjangka lebih panjang. "Rencana US$ 400 miliar yang disebut sebagai 'Operation Twist' itu justru membuat investor khawatir karena hanya memiliki dampak sedikit pada kredit, di tengah perekonomian yang terlihat mengalami stagnasi, " jelas Tumpal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×