Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan dalam negeri bergerak fluktuatif di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global pada semester II-2026.
Berdasarkan data Foreign Portfolio Investment (FPI) Matrix per Juli 2026, pasar finansial domestik bahkan mencatat aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing sebesar US$ 54 juta di pasar obligasi dan US$ 141 juta di pasar saham.
Aksi keluar modal asing ini dipicu oleh sentimen risk-off global seiring masih tersendatnya jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Meski demikian, pelemahan sentimen luar negeri tersebut justru menjadi momentum bagi investor ritel domestik untuk memburu aset pendapatan tetap yang aman.
Baca Juga: MSCI Picu Dana Asing Keluar, Rupiah Dinilai Tetap Terkendali
Pemerintah kini menawarkan kupon obligasi menarik di atas level 6% yang dijamin penuh oleh negara untuk menjaga stabilitas pasar.
ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, menjelaskan bahwa langkah taktis regulator dalam merealokasi fiskal serta menaikkan suku bunga acuan telah membuahkan hasil positif bagi stabilitas nilai tukar.
"Dengan kenaikan BI rate ini akan semakin membuat atraktif untuk berinvestasi di instrumen yang lebih aman," ungkap Enrico di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Tingkat inflasi nasional tercatat tetap terkendali pada level 3,34% (yoy) per Juni 2026 berkat efektivitas APBN dalam meredam gejolak harga energi dunia.
Guna memperkuat fondasi kurs rupiah dari tekanan eksternal, Bank Indonesia (BIB) berpotensi mengerek BI Rate sebanyak tiga kali lagi hingga akhir tahun menuju level terminal 6,50%.
"Apalagi ekonomi Indonesia tumbuh 5,61%, masih bagus karena di atas pertumbuhan rata-rata dunia," tambah Enrico.
Baca Juga: Dana Asing Serbu Obligasi Asia, Indonesia Jadi Tujuan Utama
Menurut Enrico, di tengah era ketidakpastian ini, penempatan dana pada aset dengan kupon tetap seperti ORI030 dinilai sebagai langkah perlindungan portofolio yang paling logis bagi investor ritel.
Potensi kenaikan suku bunga acuan ke depan justru diproyeksikan memperlebar jarak spread kebijakan moneter domestik terhadap bank sentral global, sehingga aset berpendapatan tetap kian kompetitif.
Terlebih lagi, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara secara konsisten terus menunjukkan performa impresif sebagai basis oasis pertumbuhan global.
Penawaran instrumen investasi berbasis perlindungan modal ini masih dibuka oleh pemerintah melalui berbagai mitra distribusi utama hingga penutupan resmi pada 30 Juli 2026 mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
