kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45789,36   -0,17   -0.02%
  • EMAS937.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.23%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.08%

CIMB Niaga terbitkan sukuk dengan bagi hasil floating, seperti apa prospeknya?


Kamis, 19 Maret 2020 / 21:53 WIB
CIMB Niaga terbitkan sukuk dengan bagi hasil floating, seperti apa prospeknya?
ILUSTRASI. Petugas keamanan melayani nasabah di Bank Cimb Niaga Jakarta, Senin (18/11). Bank CIMB Niaga menerbitkan instrumen Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank CIMB Niaga Tahap III Tahun 2020./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/18/11/2019.

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) pada 10 Maret 2020 silam menerbitkan instrumen Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank CIMB Niaga Tahap III Tahun 2020. Merujuk data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), instrumen sukuk mudharabah tersebut memiliki nilai sebesar Rp 1 triliun.

Adapun instrumen tersebut dibagi ke dalam tiga jenis berdasarkan lama tenornya. Pertama, senilai Rp 332 miliar yang jatuh tempo pada 7 April 2021. Kedua, senilai Rp 287 miliar yang jatuh tempo pada 27 Maret 2023. Ketiga, senilai Rp 391 miliar 27 Maret 2025. Sementara untuk suku bunga, ketiganya menggunakan bagi hasil floating sebagai acuan.

Baca Juga: Pilah pilih obligasi korporasi? Simak saran analis berikut ini

Portfolio Manager Sucorinvest Asset Management Dimas Yusuf menganggap suku bunga floating saat ini untuk jangka pendek relatif kurang menguntungkan. Pasalnya, obligasi korporasi saat ini tengah berada dalam pergerakan yang cukup tajam. Terbaru, hari ini, Kamis (19/3), yield obligasi korporasi berada di level 7,4%.

“Ada tendensi untuk jangka pendek kurang menguntungkan. Suku bunga floating pun range-nya tidak besar, maksimum 1-1,5%. Sehingga dengan pergerakan sekarang kurang favorable,” terang Dimas kepada Kontan.co.id, Kamis (19/3).

Namun Dimas menyebutkan jika untuk secara jangka panjang, meskipun dengan suku bunga floating, obligasi milik CIMB Niaga masih cukup baik. Pasalnya ia menilai kondisi CIMB Niaga sendiri sebenarnya sehat.

“Jadi untuk pembayaran kupon dan principal seharusnya tidak ada risiko gagal bayar. Tapi memang kalau dibandingkan market akan sedikit underperform,” tambah Dimas.

Baca Juga: Ada enam obligasi korporasi baru pada Maret ini, seperti apa prospeknya?

Sementara Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana menerangkan bahwa suku bunga floating seringkali menggunakan basis suku bunga acuan ditambah nilai spread tertentu. Jika ternyata obligasi korporasi milik CIMB Niaga mengacu ke suku bunga acuan BI7DRRR, Fikri menilai akan sedikit merugikan.

“Suku bunga floating yang mengacu BI7DRRR mungkin return-nya akan sedikit tergerus. Karena jika nilai kupon menurun, maka seharusnya return-nya juga akan ikut mengecil,” ujar Fikri.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×