Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 17,34 triliun sepanjang 2025. Investor asing terpantau banyak melepas saham-saham bluechip dan perbankan jumbo alias big banks.
Saham dengan nilai net sell paling besar ada di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang mencapai Rp 30,03 triliun. Tak heran, sepanjang tahun 2025, saham BBCA sudah terkoreksi 18,27%.
Kemudian ada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang masing-masing membukukan net sell oleh investor asing sebesar Rp 16,98 triliun dan Ro 14,75 triliun.
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan net sell oleh investor asing sebesar Rp 5,52 triliun. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga tak ketinggalan di jual asing dengan net sell Rp 5,04 triliun.
Baca Juga: Ini Saham yang Berpotensi Jadi Primadona Investor Asing di 2026
Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas menilai fenomena net sell pada raksasa perbankan dan konsumer di 2025 disebabkan oleh strategi rebalancing portofolio asing, bukan karena pelemahan fundamental.
Chory optimistis akan terjadi pembalikan arah masif alias net buy pada saham-saham big banks di awal 2026. Adapun proyeksi tersebut berasal dari sentimen dividend hunting oleh pelaku pasar.
“Dengan laba tahun 2025 yang diproyeksi tetap tumbuh solid, asing tidak akan mau melewatkan yield dividen yang menarik di awal tahun ini,” katanya kepada Kontan akhir pekan lalu.
Chory juga memproyeksikan saham konsumer akan kembali menjadi incaran asing sebagai aset defensif jika volatilitas global meningkat, ditambah lagi dengan sentimen perbaikan daya beli domestik tahun ini.
“Untuk sektor ini, asing mungkin masih akan cenderung wait and see atau tetap net sell terbatas karena adanya transisi global ke energi hijau, sehingga pergerakannya akan sangat bergantung pada harga batu bara harian,” katanya.
Lebih lanjut, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan aliran modal asing (foreign inflow) akan terkonsentrasi pada tiga tema besar. Pertama, perbankan big caps tetap menjadi pintu utama asing masuk ke Indonesia.
“Pemulihan konsumsi dan suku bunga seperti ASII dan TLKM diprediksi akan bertransisi dari saham yang ditinggalkan menjadi incaran utama,” jelas Chory.
Ketiga, tema mineral strategis. Pilihan sahamnya jatuh pada ANTM dan AMMN. Menurutnya kedua saham itu menarik selama isu transisi energi dan penguatan harga emas global berlanjut.
Selanjutnya: Dorong Bisnis Bulion, BSI Andalkan Superapps BYOND
Menarik Dibaca: 7 Efek Samping Botox yang Penting Diketahui Sebelum Melakukannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













